Geber Produksi Pakai Kedelai Plus

LIPI menawarkan kembali kedelai­nya yang sudah direkayasa se­hingga berproduk­si tinggi. Tergan­tung kemauan pemerintah.

Jarang-jarang Direktur Pu­sat Penelitian Bioteknologi Lembaga Emu Pengetahuan Indonesia Bambang Prasetya dan Deputi Kepala UPI Bi­dang Ilmu Pengetahuan Hayati Endang Sukara tercenung bareng di depan tele­visi. Hail itu di ruang rapat Pusat Pe­nelitian Bioteknologi LIPI, keduanya baru saja mencermati berita kelangka­an kedelai yang menyusahkan hampir seluruh lapisan di masyarakat.

Bambang dan Endang lalu berpan­dangan dan saling melempar senyum miris. “Andai saja basil penelitian para peneliti kami tentang kedelai dimanfa­atkan pemerintah sejak dulu, kisruh soal kedelai selama sepekan terakhir ini tak perlu terjadi,” kata Bambang mengungkapkan isi benaknya saat itu.

Yang dimaksud Bambang adalah pe­nelitian tentang teknik tanaman kede­lai yang memiliki produktivitas tinggi dan dikenal sebagai “kedelai plus”. “Kedelai itu dibekali mikroba yang berpotensi melakukan penambatan nitrogen secara hayati,” kata Harmas­tini Sukiman, ahli milroba LIPI.

Harmastini mengatakan mikroba berasal dari bakteri rhizobium yang biasa hidup dalam tanah. Bakteri itu­lah yang biasa berperan membantu ta­naman mengikat nitrogen dari udara. Ada 80 persen unsur nitrogen di udara yang tak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman tanpa bersim­biosis dengan rhizobium.

“Nah, dengan menginsersi rhizobium ke dalam biji kedelai, tanaman bisa melakukan penyerapan nitrogen lebih baik dan mengubahnya menjadi unsur yang bisa meningkatkan produksi ta­naman,” dia menjelaskan.

Karena sudah disisipi bakteri, biji kedelai plus tidak memerlukan pemu­pukan secara optimal. Kebutuhan pu­puk kimia, semacam urea, pun dapat dikurangi hingga 60 persen. Bahkan, di lahan yang baik, kedelai plus bisa be­bas sama sekali dari kebutuhan pupuk kimia. Penggantinya, pupuk organik dosis rendah (2 kilogram per hektare). “Karena itu, kedelai yang dihasilkan adalah kedelai organik,” kata Harmas­tini.

Untuk tanah yang asam ataupun kondisi marginal lainnya, jenis bakteri yang sama tetap mampu tumbuh dan bersimbiosis dengan baik. Malah, pas­capenanaman tanah menjadi lebih su­bur karena kandungan nitrogen dalam tanah meningkat 20 persen.

Dengan begitu, Haimastini menvata­kan, petani bisa menjadikan kedelai se­bagai tanaman alternatif ketika padi tidak bisa ditanam. “Saat musim ta­nam padi datang lagi, tanah yang adu menjadi lebih subur,” katanya lagi.

Kebutuhan pupuk bisa dikurangi. Tanah pun boleh jadi lebih subur, tapi basil akhir yang diincar tentu saja ting­kat produksi. Jika satu tanaman kede­lai biasa umumnya menghasilkan 50­60 polong (1 polong berisi 2-3 kacang kedelai), kedelai plus mampu mempro­duksi sampai 100 polong alias dua kali lipatnya. Jadi, jika produksi nasional rata-rata kedelai biasa adalah 1,2 ton per hektare, produksi kedelai plus bisa mencapai 2,4-4,5 ton per hektare.

Angka itu sudah dibuktikan Harmastini di lahan uji coba seluas 10 hektare di Kabupaten Musiwaras, Provinsi Sumatera Selatan, pada 2004. Empat tahun lalu, benih kedelai plus yang ditebar mampu menuai ha­sil panen sebanyak 362 ton. Padahal, sebagai catatan saja, sebagian lahan bergambut.

“Uji coba lain, baik dilakukan di tanah subur maupun kurang subur, di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti di Gunung Kidul, Bogor, Sukabumi, Subang. dan Serang, membuktikan hasil serupa, kali ini yang berbicara adalah Endang Sukara. Produksi te­tap jauh lebih tinggi daripada pro­duksi tanaman kedelai biasa.

Lewat kedelai plus, Endang Sukara dan kawan-kawan di LIPI sekaligus ingin mengangkat pamor kedelai di Indonesia. Menurut Endang, banyak ilmuwan, termasuk di Indonesia, yang sampai sekarang masih percaya bah­wa kedelai hanya cocok ditanam di daerah beriklim subtropis. Yang se­ring diperbandingkan adalah produk­tivitas kedelai nasional hanya 1,2 ton per hektare, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 2,3 ton per hektare. Padahal, Endang melanjutkan, pro­duksi kedelai Amerika itu dikerek de­ngan modifikasi genetis. Kami mela­kukan modifikasi hayati, produktivi­tas kedelai lokal terbukti setara dan bahkan melebihi kedelai impor,” ka­tanya. Teknologi organic-bio-engineering yang dikembangkan LIPI, Endang me­nuturkan, bisa pula diterapkan pada seluruh varietas kedelai lokal, terma­suk keluaran Departemen Pertanian dan Badan Tenaga Nuklir Nasional. “Ongkosnya tidak mahal,” katanya sambil menambahkan, hitungan per hektare yang hanya dibutuhkan Rp 50 ribu untuk menambahkan bakteri. Endang sangat berharap pemerin­tah kali ini segera memanfaatkan ha­sil penelitian itu secara massal. Peme­rintahan sebelumnya sudah diperke­nalkan dengan kedelai plus, tapi tidak memanfaatkannya. “Penelitian ini memang tidak akan berguna apabila pemerintah tetap mempertahankan kebijakan tata niaga kedelai yang le­bih mengutamakan impor dalam ben­tuk jadi,” katanya menitip pesan.

Titip Bakteri Sejak Biji

K

edelai plus adalah buah terbaru dari 30 tahun lebih penelitian Lembaga II­mu Pengetahuan Indonesia tentang kedelai. Bakteri rhizobium adalah kunci utamanya. Karakter bakteri ini adalah ber­simbiosis dengan tanaman legum, seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan lain-lain. Bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman, dan hidup dengan cara membentuk bintil-bintil di akar.

Beberapa jenis terpilih rhizobium jenis B64 biotechnology culture collection di­kembangkan dalam media fermentasi cair yeast ekstrak manitol. “Ini teknologi hayati double fermentation, yakni bakteri rhizobi­um bisa memperbanyak dirinya sendiri de­ngan media ubi kayu atau singkong yang difermentasi,” kata Harmastini.

Suspensi bakteri lalu disisipkan ke da­lam biji kedelai dengan mesin vakum pen­campur yang dikembangkan LIPI. Saat biji ditanam, bakteri akan mulai menginfeksi akar kedelai dan membentuk bintil akar yang menyerap nitrogen. Akibatnya, kan­dungan nitrogen dalam tanah bisa me­ningkat sampai 20 persen setelah pena­naman. Tanah menjadi lebih subur dan produktivitas tanaman meningkat.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s