Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura

Oleh: Sunaryono Basuki Ks

SUDAHKAH kau dengar kisah tentang se­pasang kera yang ber­jalan kaki dari pura ke pura untuk melaksana­kan tugas akhir yang harus diemban menyu­cikan roh mereka ber­dua?

PERJALANAN sepasang kera ini tiba-tiba menggemparkan orang kota, terutama kota yang seharusnya dilewati keduanya namun batal terlaksana lantar­an suratan yang menyatakan demikian. Tidak seorang pun yang tahu siapa me­reka berdua, kecuali bahwa mereka ada­lah sepasang kera yang dengan rukunnya bagai sejoli berjalan dari Pura Batu di tepi pantai ke pura di timur kota yang juga terletak di tepi pantai. Siapakah yang diwadahinya sehingga mereka harus me­nanggung kisah yang menjadi bacaan orang-orang di pinggir jalan, kisah yang juga diteruskan dari mulut ke mulut de­ngan bumbu penyedap berbagai rasa sehingga kisah pun berkembang menjadi dongeng indah.

Tidak seorang pun tahu siapa mereka berdua dulun,ya, mungkin juga tak se­orang pun mengingat kisah masa lalu mereka yang mungkin sudah lewat pu­luhan tahun bahkan ratusan tahun dalam sejarah yang tak seorang pun menca­tatnya.

Perlukah kita mengungkap kisah sedih tentang sepasang kera yang berjalan dari pura di barat kota menuju pura di timur kota, jarak keduan,ya sekitar delapan pu­luh kilometer, tak mungkin ditempuh ber­jalan kaki dalam tempo satu hari.

Konon sepasang kera itu adalah se­pasang suami istri yang bersumpah ber­setia karenanya ketika mereka menjelma kembali menjadi kera, maka mereka pun tetap bersama menanggung derita dan menuai sukacita bersama. Katanya, me­reka berdua sudah menjadi penghuni pura sejak mereka dilahirkan oleh induk dan jantan kera yang berbeda. Kelahirannya di halaman pura yang memang penuh berpenghuni kera itu konon adalah atas permintaan mereka berdua agar mereka diberl kesempatan menytcikan hidup me­reka sehingga mereka dapat kembali men­jadi manusia, kemudian hidup lagi men­jadi makhluk utama dan kembali ke sur­ga.

Dulunya, mereka berdua adalah suami istri yang sangat berbahagia, diam di sebuah rumah di kota. Mereka hidup tenteram di masa tenteram. Saat mengandung anak yang kemudian lahir sebagai anak perempuan, setiap hari istrinya menginginkan kijang guling, sebagaima­na orang-orang suka memasak babi gu­ling dan kadang kambing guling. Selalu terbayang dalam tetes liurnya kijang mu­da yang ditusuk besi beton dari mulut sampai ke dubur, lalu diputar pada dua tonggak besi di atas bara yang menganga. Beberapa jam kijang yang perutnya sudah diisi daun belimbing yang bercampur bumbu itu terus diputar agar matangnya rata.

Perempuan itu setiap saat membayang­kan kijang yang diputar-putar di atas bara itu hingga air liurnya tetes.

“Pergilah berburu kijang, Aji, sudah tak tahan mulutku diam lidahku kering mem­bayangkan kijang muda yang diguling, kulitnya cokelat tua dan renyah rasanya. Jangan tunda lagi, suamiku:”

Lalu, dia pun pergi bersama seorang teman ke padang perburuan di Bali Barat, malam-malam yang gelap, berdua tak bercakap bahkan seolah selalu menahan napas. Malam itu sepasang mata yang menyala tiba-tiba diam tak bergerak se­olah menunggu dengan waswas, jangan­jangan laras senapan diarahkan ke kepalanya. Sepasang mata menyala itu diam bagaikan terpaku di batang pohon, hanya nyala tanpa gerak.

Lalu, terdengar suara tembakan tung­gal dan mata itu pun runtuh ke tanah bersama suara tubuh yang tersungkur.

“Kena!” teriak lelaki itu. Temannya bergegas menuju tempat sepasang mata jatuh ke tanah dengan senter di tangan menyala.

“Induk kijang!” teriak temannya. Lelaki itu agak kecewa sebab dia ber­harap dapat menembak seeker kijang mu­da yang diidamkan oleh istrinya. Rumput yang terinjak-injak kaki mereka dan se­mak yang terkuak, lalu temannya ber­teriak:

“Dia tak sendirian!” “Mana lagi?” tanyanya.

Lelaki temannya menghunus goloknya dan menyerahkan senternya untuk di­pegangnya menerangi tubuh yang rebah itu. Dengan cekatan dia membedah perut kijang itu dan sesaat mengeluarkan bayi kijang yang menggeliat dari dalamnya.

“Syukur dia masih hidup,” katanya sambil membungkus bayi kijang itu dalam kain sarung yang sejak tadi melilit le­hernya.

Di rumah, mereka disambut bukan oleh sorak sorai atas keberhasilan mereka me­nembak seeker kijang, tetapi oleh berita yang memacu jantungnya untuk berdegup keras.

“Ibu dibawa ke rumah sakit,” kata pem­bantunya.

Dan kisah selanjutnya kau pasti sudah tahu, tak perlu lagi dikisahkan tentang gadis kecil yang bersahabat dengan ki­jangnya dan terbang ke langit mencari mamanya.

Tahun-tahun dilewati oleh lelaki itu dalam kesepian, terutama ketika anak gadisnya terbang ke langit tanpa meng­ucap selamat tinggal. Telah dia relakan gadis kecil itu bersama kijangnya mencari mamanya, dan kijang itu pasti rindu pada induknya yang tak pernah menyusuinya. Mereka telah bertemu di taman bunga dengan hamparan rerumputan hijau bagai permadani persia, di mana gadis kecil itu bebas berguling-guling memeluk kijang­nya yang mengedip-kedipkan matanya.

Bertahun-tahun lamanya mamanya me­nunggu lelaki yang duduk kesepian di kursi malas di kebun rumahnya sampai pada suatu saat mereka dapat berkumpul kembali dan bersama hujan turun ke bumi sebagai anak-anak kera yang lucu. Ber­tahun-tahun lamanya lelaki itu menyebut nama Tuhannya dan memohon izin untuk membersihkan dirinya dari dosa, dan pembersihan diri itu harus dilakukan kembali di atas bumi yang penuh ke­kotoran ini.

Dari tahun ke tahun kera itu hidug berpasangan, tanpa seorang anak pun se­bab mereka bersumpah untuk tidak ber­satu tubuh hanya sukma yang layak ter­padu walau mereka suami istri. Orang­-orang yang datang bersembahyang di pu­ra itu sering memerhatikan mereka yang konon berpenlaku sebagai manusia. Me­reka tidak pernah menyerang para pen­doa, tidak pernah merampas buah atau kue yang dibawa sebagai sesaji oleh umat yang bersembahyang.

Mereka selalu menunggu orang-orang selesai bersembahyang dan dengan sabar pula menunggu mereka mengulurkan tangan dengan buah atau kue yang me­reka terima dengan tangan pula. Bila­mana ada orang yang melempar kue atau buah kepada mereka sampai jatuh ke tanah, mereka tidak mau memungutnya, dan membiarkan kera lain merebut kue itu dan lari dari arena.

Konon, mereka benar-benar berperi­laku sebagai manusia, sebagai sepasang suami istri yang mencari rezeki dari orang-orang yang bersembahyang di pura ini. Mereka akan menerima buah yang bersih, yang belum digigit manusia. Per­nah seseorang mencoba mengupas pisang dan rnencuil ujungnya dengan tangan lalu mengulurkan pisang setengah terkupas itu kepada mereka, namun mereka diam saja tak hendak menerima pemberian itu walaupun tulus.

Di hari yang baik itu janji harus di­tepati. Sepasang kera itu duduk berdua diam di depan pura utama, memohon berkah Sang Hyang Maha Menentukan lalu si jantan mendengar bisik dan ke­mudian mereka berdua berdiri, saling ber­bimbingan tangan menuruni tebing bukit menuju jalan raya. Dengan hati yang man­tap mereka menghadap ke arah timur dan melangkah dengan niat mencapai pura di pinggir pantai yang terletak di timur kota, delapan puLuh kilometer jauhnya.

Dari ladang ke ladang ke kebun mereka berayun, namun kadang berjalan kaki di tepi jalan sebagaimana sepasang pendu­duk kampung yang hendak ke kota. Orang-orang yang melihat mereka mem­biarkan mereka lewat, kadang menunggu dan mengulurkan dua buah pisang yang mereka terima dengan membuka se­nyum.

Lihatlah, anakku. Mereka benar-benar mirip manusia,” seorang perempuan bi­cara dengan anak yang duduk di pang­kuannya.

Pada malam hari mereka berhenti di dangau di ladang petani dan esoknya kalau merasa lapar, mereka mendekati nunah penduduk yang mengerti dan membeii mereka makanan.

Namun. sayang, tidak semua orang tahu siapa sepasang kera itu, karena memang mereka tidak pernah berjumpa dengan mereka dan tak pernah mendengar kisah mereka. Dan seorang anak muda yang menenteng senapan angin berburu bu­rung tiba-tiba melihat mereka di atas pohon, membidik salah seorang darinya dan jatul lah kera betina, mula-mula ma­sih sempat bergelayut di ranting pohon namun akhirnya jatuh terbanting ke atas tanah. Kera jantan memburu turun dan memeluk tubuh yang mulai mengejang saat nyawa mulai merambat keluar da­rinya.

‘Duh, istriku, kenapa hal ini harus ter­jadi lagi?” seolah dia merintihkan lagu duka yang mengusung masa lalunya.

Siapakah yang memahami rintihnya kalau mereka tak merekam sejarah yang tak pernah tertulis? Bagaimana orang ta­hu tentang peristiwa yang sudah berlalu?

Anak muda itu datang mendekat dan menodohgkan laras senapannya, siap akan menembaknya dan merobohkannya di atas tubuh istrinya. Sekilat dia ingin mati bersama istrinya, sebagaimana apa yang mereka janjikan. Namun, dilihatnya cahaya yang menuntunnya untuk ber­gerak terus ke arah timur.

“Tidak!” katanya. “Bukannya aku tak bersetia padamu, istriku, tetapi ada tugas yang harus aku penuhi agar harkat kita kembali ke tempatnya semula. Aku harus sampai di pura sebelah timur, mengha­turkan sembah kepada Yang Maha Ber­kehendak sehingga kita tetap bersatu se­bagai manusia.”

Tembakan berdesis dan jantan kera itu melompat menghindar, memanjat pohon dan dari ketinggian dia melihat pemuda itu membawa jasad istrinya pulang. Di rumah orang mengulitinya dan memasak dagingnya, serta membagi gulai daging itu kepada para tetangga.

Esoknya desa gempar sebab orang­orang yang ikut memangsa daging kera itu semuanya menjadi gagu, tak bisa bicara, sementara pemuda yang dengan gagah beraninya menembak kera itu ditemukan terbujur tubuhnya di atas bale kamarnya, tak bangun lagi, dengan kulitnya yang dingin dan dadanya yang tak lagi naik turun.

Berita itu dengan cepat tersebar ke seluruh wilayah dan orang-orang berbisik tentang sepasang kera yang bertingkah laku sebagai manusia, yang tinggal di pura selama bertahun-tahun dan tak per­nah mengganggu manusia.

Kera itu dengan kepala menunduk me­lanjutkan perjalanannya yang belum usai, pada malam hari sampai di pura di tepi pantai, dan tanpa beristirahat duduk me­nundukkan kepalanya di depan tempat sembahyang utama, dengan sekuntum bu­nga kamboja terselip di telinganya.

Berhari-hari dan malam dia tinggal di pura itu mencoba meninggaikan rasa du­ka yang masih menyesaki dadanya dengan besar hati.

“Aku harus menjalaninya, kisah hidup yang kujalin sendiri dari dedaunan kar­maku, apakah mampu membentuk kipas yang dapat menyejukkan tubuh di kala panas menyengat atau perangkat sem­bahyang yang penuh dengan bunga. Siapakah yang bertanggung jawab atas per­buatan selain diri kita sendiri, dan aku harus menebus apa yang sudah kuper­buat, dan istriku harus menjalani kembali kisah sedih yang sudah terjalin menyatu dengan masa lalu.

Lalu, ketika genap lewat tujuh hari, dia mulai melangkahkan kaki kembali menu­ju ke barat, kembali ke pura batu di tepi pantai dan menjalani sisa hidupnya sen­diri. Sisa? Berapa harikah yang tersisa? Dia tak boleh mempersoalkannya. Hari­-hari lewat dengan berdoa, hari-hari di wilayah yang suci tempat manusia me­nyambung sukmanya dengan zat yang Mahasuci, kenapa aku tak boleh menyam­bung sukmaku sebagaimana mereka?

Hari-hari berlalu dan dia berharap pa­da suatu saat tiba saatnya dia berkumpul kembali dengan istrinya sebagai manusia, menapaki jalan yang lebih bersih agar tercapai moksa kembali menjadi zat suci, bercampur udara yang berada pada la­pisan paling atas paling dekat dengan Zat Yang Mahazat. *

Singaraja, 6 Agustus 2003

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s