Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura

Oleh: Sunaryono Basuki Ks

SUDAHKAH kau dengar kisah tentang se­pasang kera yang ber­jalan kaki dari pura ke pura untuk melaksana­kan tugas akhir yang harus diemban menyu­cikan roh mereka ber­dua?

PERJALANAN sepasang kera ini tiba-tiba menggemparkan orang kota, terutama kota yang seharusnya dilewati keduanya namun batal terlaksana lantar­an suratan yang menyatakan demikian. Tidak seorang pun yang tahu siapa me­reka berdua, kecuali bahwa mereka ada­lah sepasang kera yang dengan rukunnya bagai sejoli berjalan dari Pura Batu di tepi pantai ke pura di timur kota yang juga terletak di tepi pantai. Siapakah yang diwadahinya sehingga mereka harus me­nanggung kisah yang menjadi bacaan orang-orang di pinggir jalan, kisah yang juga diteruskan dari mulut ke mulut de­ngan bumbu penyedap berbagai rasa sehingga kisah pun berkembang menjadi dongeng indah.

Tidak seorang pun tahu siapa mereka berdua dulun,ya, mungkin juga tak se­orang pun mengingat kisah masa lalu mereka yang mungkin sudah lewat pu­luhan tahun bahkan ratusan tahun dalam sejarah yang tak seorang pun menca­tatnya.

Perlukah kita mengungkap kisah sedih tentang sepasang kera yang berjalan dari pura di barat kota menuju pura di timur kota, jarak keduan,ya sekitar delapan pu­luh kilometer, tak mungkin ditempuh ber­jalan kaki dalam tempo satu hari.

Konon sepasang kera itu adalah se­pasang suami istri yang bersumpah ber­setia karenanya ketika mereka menjelma kembali menjadi kera, maka mereka pun tetap bersama menanggung derita dan menuai sukacita bersama. Katanya, me­reka berdua sudah menjadi penghuni pura sejak mereka dilahirkan oleh induk dan jantan kera yang berbeda. Kelahirannya di halaman pura yang memang penuh berpenghuni kera itu konon adalah atas permintaan mereka berdua agar mereka diberl kesempatan menytcikan hidup me­reka sehingga mereka dapat kembali men­jadi manusia, kemudian hidup lagi men­jadi makhluk utama dan kembali ke sur­ga.

Dulunya, mereka berdua adalah suami istri yang sangat berbahagia, diam di sebuah rumah di kota. Mereka hidup tenteram di masa tenteram. Saat mengandung anak yang kemudian lahir sebagai anak perempuan, setiap hari istrinya menginginkan kijang guling, sebagaima­na orang-orang suka memasak babi gu­ling dan kadang kambing guling. Selalu terbayang dalam tetes liurnya kijang mu­da yang ditusuk besi beton dari mulut sampai ke dubur, lalu diputar pada dua tonggak besi di atas bara yang menganga. Beberapa jam kijang yang perutnya sudah diisi daun belimbing yang bercampur bumbu itu terus diputar agar matangnya rata.

Perempuan itu setiap saat membayang­kan kijang yang diputar-putar di atas bara itu hingga air liurnya tetes.

“Pergilah berburu kijang, Aji, sudah tak tahan mulutku diam lidahku kering mem­bayangkan kijang muda yang diguling, kulitnya cokelat tua dan renyah rasanya. Jangan tunda lagi, suamiku:”

Lalu, dia pun pergi bersama seorang teman ke padang perburuan di Bali Barat, malam-malam yang gelap, berdua tak bercakap bahkan seolah selalu menahan napas. Malam itu sepasang mata yang menyala tiba-tiba diam tak bergerak se­olah menunggu dengan waswas, jangan­jangan laras senapan diarahkan ke kepalanya. Sepasang mata menyala itu diam bagaikan terpaku di batang pohon, hanya nyala tanpa gerak.

Lalu, terdengar suara tembakan tung­gal dan mata itu pun runtuh ke tanah bersama suara tubuh yang tersungkur.

“Kena!” teriak lelaki itu. Temannya bergegas menuju tempat sepasang mata jatuh ke tanah dengan senter di tangan menyala.

“Induk kijang!” teriak temannya. Lelaki itu agak kecewa sebab dia ber­harap dapat menembak seeker kijang mu­da yang diidamkan oleh istrinya. Rumput yang terinjak-injak kaki mereka dan se­mak yang terkuak, lalu temannya ber­teriak:

“Dia tak sendirian!” “Mana lagi?” tanyanya.

Lelaki temannya menghunus goloknya dan menyerahkan senternya untuk di­pegangnya menerangi tubuh yang rebah itu. Dengan cekatan dia membedah perut kijang itu dan sesaat mengeluarkan bayi kijang yang menggeliat dari dalamnya.

“Syukur dia masih hidup,” katanya sambil membungkus bayi kijang itu dalam kain sarung yang sejak tadi melilit le­hernya.

Di rumah, mereka disambut bukan oleh sorak sorai atas keberhasilan mereka me­nembak seeker kijang, tetapi oleh berita yang memacu jantungnya untuk berdegup keras.

“Ibu dibawa ke rumah sakit,” kata pem­bantunya.

Dan kisah selanjutnya kau pasti sudah tahu, tak perlu lagi dikisahkan tentang gadis kecil yang bersahabat dengan ki­jangnya dan terbang ke langit mencari mamanya.

Tahun-tahun dilewati oleh lelaki itu dalam kesepian, terutama ketika anak gadisnya terbang ke langit tanpa meng­ucap selamat tinggal. Telah dia relakan gadis kecil itu bersama kijangnya mencari mamanya, dan kijang itu pasti rindu pada induknya yang tak pernah menyusuinya. Mereka telah bertemu di taman bunga dengan hamparan rerumputan hijau bagai permadani persia, di mana gadis kecil itu bebas berguling-guling memeluk kijang­nya yang mengedip-kedipkan matanya.

Bertahun-tahun lamanya mamanya me­nunggu lelaki yang duduk kesepian di kursi malas di kebun rumahnya sampai pada suatu saat mereka dapat berkumpul kembali dan bersama hujan turun ke bumi sebagai anak-anak kera yang lucu. Ber­tahun-tahun lamanya lelaki itu menyebut nama Tuhannya dan memohon izin untuk membersihkan dirinya dari dosa, dan pembersihan diri itu harus dilakukan kembali di atas bumi yang penuh ke­kotoran ini.

Dari tahun ke tahun kera itu hidug berpasangan, tanpa seorang anak pun se­bab mereka bersumpah untuk tidak ber­satu tubuh hanya sukma yang layak ter­padu walau mereka suami istri. Orang­-orang yang datang bersembahyang di pu­ra itu sering memerhatikan mereka yang konon berpenlaku sebagai manusia. Me­reka tidak pernah menyerang para pen­doa, tidak pernah merampas buah atau kue yang dibawa sebagai sesaji oleh umat yang bersembahyang.

Mereka selalu menunggu orang-orang selesai bersembahyang dan dengan sabar pula menunggu mereka mengulurkan tangan dengan buah atau kue yang me­reka terima dengan tangan pula. Bila­mana ada orang yang melempar kue atau buah kepada mereka sampai jatuh ke tanah, mereka tidak mau memungutnya, dan membiarkan kera lain merebut kue itu dan lari dari arena.

Konon, mereka benar-benar berperi­laku sebagai manusia, sebagai sepasang suami istri yang mencari rezeki dari orang-orang yang bersembahyang di pura ini. Mereka akan menerima buah yang bersih, yang belum digigit manusia. Per­nah seseorang mencoba mengupas pisang dan rnencuil ujungnya dengan tangan lalu mengulurkan pisang setengah terkupas itu kepada mereka, namun mereka diam saja tak hendak menerima pemberian itu walaupun tulus.

Di hari yang baik itu janji harus di­tepati. Sepasang kera itu duduk berdua diam di depan pura utama, memohon berkah Sang Hyang Maha Menentukan lalu si jantan mendengar bisik dan ke­mudian mereka berdua berdiri, saling ber­bimbingan tangan menuruni tebing bukit menuju jalan raya. Dengan hati yang man­tap mereka menghadap ke arah timur dan melangkah dengan niat mencapai pura di pinggir pantai yang terletak di timur kota, delapan puLuh kilometer jauhnya.

Dari ladang ke ladang ke kebun mereka berayun, namun kadang berjalan kaki di tepi jalan sebagaimana sepasang pendu­duk kampung yang hendak ke kota. Orang-orang yang melihat mereka mem­biarkan mereka lewat, kadang menunggu dan mengulurkan dua buah pisang yang mereka terima dengan membuka se­nyum.

Lihatlah, anakku. Mereka benar-benar mirip manusia,” seorang perempuan bi­cara dengan anak yang duduk di pang­kuannya.

Pada malam hari mereka berhenti di dangau di ladang petani dan esoknya kalau merasa lapar, mereka mendekati nunah penduduk yang mengerti dan membeii mereka makanan.

Namun. sayang, tidak semua orang tahu siapa sepasang kera itu, karena memang mereka tidak pernah berjumpa dengan mereka dan tak pernah mendengar kisah mereka. Dan seorang anak muda yang menenteng senapan angin berburu bu­rung tiba-tiba melihat mereka di atas pohon, membidik salah seorang darinya dan jatul lah kera betina, mula-mula ma­sih sempat bergelayut di ranting pohon namun akhirnya jatuh terbanting ke atas tanah. Kera jantan memburu turun dan memeluk tubuh yang mulai mengejang saat nyawa mulai merambat keluar da­rinya.

‘Duh, istriku, kenapa hal ini harus ter­jadi lagi?” seolah dia merintihkan lagu duka yang mengusung masa lalunya.

Siapakah yang memahami rintihnya kalau mereka tak merekam sejarah yang tak pernah tertulis? Bagaimana orang ta­hu tentang peristiwa yang sudah berlalu?

Anak muda itu datang mendekat dan menodohgkan laras senapannya, siap akan menembaknya dan merobohkannya di atas tubuh istrinya. Sekilat dia ingin mati bersama istrinya, sebagaimana apa yang mereka janjikan. Namun, dilihatnya cahaya yang menuntunnya untuk ber­gerak terus ke arah timur.

“Tidak!” katanya. “Bukannya aku tak bersetia padamu, istriku, tetapi ada tugas yang harus aku penuhi agar harkat kita kembali ke tempatnya semula. Aku harus sampai di pura sebelah timur, mengha­turkan sembah kepada Yang Maha Ber­kehendak sehingga kita tetap bersatu se­bagai manusia.”

Tembakan berdesis dan jantan kera itu melompat menghindar, memanjat pohon dan dari ketinggian dia melihat pemuda itu membawa jasad istrinya pulang. Di rumah orang mengulitinya dan memasak dagingnya, serta membagi gulai daging itu kepada para tetangga.

Esoknya desa gempar sebab orang­orang yang ikut memangsa daging kera itu semuanya menjadi gagu, tak bisa bicara, sementara pemuda yang dengan gagah beraninya menembak kera itu ditemukan terbujur tubuhnya di atas bale kamarnya, tak bangun lagi, dengan kulitnya yang dingin dan dadanya yang tak lagi naik turun.

Berita itu dengan cepat tersebar ke seluruh wilayah dan orang-orang berbisik tentang sepasang kera yang bertingkah laku sebagai manusia, yang tinggal di pura selama bertahun-tahun dan tak per­nah mengganggu manusia.

Kera itu dengan kepala menunduk me­lanjutkan perjalanannya yang belum usai, pada malam hari sampai di pura di tepi pantai, dan tanpa beristirahat duduk me­nundukkan kepalanya di depan tempat sembahyang utama, dengan sekuntum bu­nga kamboja terselip di telinganya.

Berhari-hari dan malam dia tinggal di pura itu mencoba meninggaikan rasa du­ka yang masih menyesaki dadanya dengan besar hati.

“Aku harus menjalaninya, kisah hidup yang kujalin sendiri dari dedaunan kar­maku, apakah mampu membentuk kipas yang dapat menyejukkan tubuh di kala panas menyengat atau perangkat sem­bahyang yang penuh dengan bunga. Siapakah yang bertanggung jawab atas per­buatan selain diri kita sendiri, dan aku harus menebus apa yang sudah kuper­buat, dan istriku harus menjalani kembali kisah sedih yang sudah terjalin menyatu dengan masa lalu.

Lalu, ketika genap lewat tujuh hari, dia mulai melangkahkan kaki kembali menu­ju ke barat, kembali ke pura batu di tepi pantai dan menjalani sisa hidupnya sen­diri. Sisa? Berapa harikah yang tersisa? Dia tak boleh mempersoalkannya. Hari­-hari lewat dengan berdoa, hari-hari di wilayah yang suci tempat manusia me­nyambung sukmanya dengan zat yang Mahasuci, kenapa aku tak boleh menyam­bung sukmaku sebagaimana mereka?

Hari-hari berlalu dan dia berharap pa­da suatu saat tiba saatnya dia berkumpul kembali dengan istrinya sebagai manusia, menapaki jalan yang lebih bersih agar tercapai moksa kembali menjadi zat suci, bercampur udara yang berada pada la­pisan paling atas paling dekat dengan Zat Yang Mahazat. *

Singaraja, 6 Agustus 2003

Iklan

Angin dari Ujung Angin

Oleh: Triyanto Triwikromo

“SUDAHLAH Herma, kau tak perlu membayangkan lagi warna wajah ayahmu saat dia menghilang dengan menunggang kuda ke tenggara kota. Yang kutahu, mengenakan topeng emas mirip penunggang kuda dari atas mginl, sayap di kedua bahunya berkibar-kibar membelah malam: Aku pun tak bisa melihat wajahnya. Mungkin dia telah menjelma iblis. Punggungnya berkilat kilat, menusuk-nusuk, memisau mata,” kata Hilda, perempuan bergaun tidur hijau muda itu sambil membereskan meja belajar Herma yang dipenuhi lukisan-lukisan pria berkuda berwajah tanpa warna.

TETAPI, teman-temanku bisa mewar­nai wajah ayahnya, Ibu. Meskipun Niko melukis wajah ayahnya menye­rupai harimau, tetapi dia bisa meng­oleskan wara merah di kedua pipinya yang menggelembung,” suara Herma melayang, mendengung di telinga Hilda.

Tak kehilangan akal, Hilda kemudian meng­oleskan warna emas di wajah lukisan pria ber­savap berkuda gagah itu. “Inilah wajah ayahmu. Dan Ibu harap kau tak bertama lagi dengan warna apa harus mengoles wajah ayahmu.”

Herma, perempuan kencur itu tak puas. Sejak usianya mengelopak dan nyala sepuluh lilin di kue ulang tahunnya berkilau-kilau. dia memang berusaha menyangkal setiap cerita aneh tentang ayahnya. Karena itu, dia pun memprotes lukisan Hilda. “Itu bukan wajah, Ibu. Teman-temanku pun akan bilang, ‘itu lukisan pria bertopeng!’ Bagaimana kalau wajah Ayah kuanggap berwarna biru..” desis Herma seraya menggam­b dua pe­rempuan bersayap dan seorang laki-laki ber­wajah biru.

Hilda tercengang. Kilau matanya melesat ke tubuh dua perempuan kuning gading yang me­lamun di punggung kuda yang tengah meringkik di atas bLLkLI gambar. “Apakah kedua perempuan itu: aku dan Mama Leli?” Hilda mendesah tak keman.

Herma mengangguk.

“Mengapa seperti orang-orang bodoh yang su­ka melamun?”

Karena Ibu clan Mama Leli memang suka melamun. Tetapi sudahlah, Ibu tak perlu ber­tan,ya tentang mata kosong dua perempuan itu. Aku hanya butuh persetujuan Ibu untuk meng­oles wajah Ayah dengan warna biru;’ sergah Herma.

Hilda menghela napas. “Ibu harus bilang apa­lagi’ Yang jelas. kau atau aku tak bisa me­reka-reka sesuatu dari kehampaan(2), Herma.” Herma pusing mendengar kata-kata ibunya yang meluncur seperti bola biliar sang disodok dengan kecepatan penu.h. Meski demikian, sekali Lagi Herma merasa perlu mendesak Hilda agar rnengizinkan dirinya mengoles wajah sang ayah dengan warna biru. “Kalau tak diizinkan; aku akan minta Mama Leli mencipratkan warna hitam ke seluruh wajah Ayah,” kata Herma ke­tus.

Mendengar letupan-letupan suara Herma yang bagai mercon cabai rawit, habislah kesabaran Hilda. Sambil memelototkan mata, perempuan beranting-anting warna magenta itu mencerocoskan sumpah serapah, “Dengar. Herma… mulai sekarang kau harus mengerti siapa ayahmu. Dia tak lebih dari kelelawar busuk yang suka ber­sembunyi bersama kelelawar busuk lain di dalam gua.”

“Kelelawar busuk? Bersembunyi di dalam gua? Buat apa Ayah beisembunyi di dalam gua? Aku tak mengerti maksud Ibu,” ringkik Herma, se­tengah berteriak sehingga.suaranya menengge­Lamkan dengung musik Der Mond` Im Wasser­tropfen (3) yang mengalun dari kamar lain.

O, tidak mungkin Hilda menjawab pertanyaan Herma dengan jujur. Karena itu sambil terus-menerus menata meja belajar Herma yang memang berantakan dia hanya mendesah dalam hati, ” Kenyataannya begini, anakku, pada musim yang busuk, Ibu memergoki ayahmu mengen­darai mobil ke tenggara kota bersama perempuan lain. Asal kau tahu, melewati jalan penuh pinus yang berkelok-kelok, mereka berhenti di ha­laman luas sebuah gua saat senja melabrak se­kujur bebatuan yang melumut. Tak banyak yang mereka percakapkan. Mereka hanya bergan­dengan tangan, saling memeluk, dan menuruni undak-undakan yang menghubungkan dunia lu­ar penuh kicau burung clan dunia gua sarat kelelawar, kercik sungai, dan tumbuh-tumbuhan hijau yang menjalar bagai ular.”

Merasa pertanyaan-pertanyaannya tak digub­ris. Herma merajuk. Dia cium kening ibunya dan mulai melontarkan rayuan yang mematikan, “Ayolah, Ibu. Kalau Ibu masih mau bercerita tentang A,yah, aku mau belajar terus. Aku mau membantu Ibu di dapur, memasak sup, meng­goreng telor mata sapi, dan….”‘

Hilda tetap bergeming. Dalam hentakan kendang Banjar Gruppe Berlin yang kian mencekik, pandangan matanya menerawang ke jendela. Da­lam pikiran yang kian kalut, dia melolong-lolong lagi, “O, seandainya kau tahu apa yang dilakukan ayahmu dan perempuan itu, Herma. Seandainya dari kejauhan dan semak-semak Yang rimbun kau bisa menyaksikan sepasang kekasih me­nuntaskan kasmaran yang menggelora di ke­remangan gua, kau akan memahami mengapa Ibu menganggap ayahmu tak lebih dari seekor kelelawar yang tak sanggup menyembunyikan kebusukannya.”

Sekali lagi Hilda menghela napas. “Tetapi, tidak! Tidak! Dalam pandangan yang samar, kulihat mata ayahmu begitu tulus mencintai perempuan itu. Dan untuk cinta, tak ada ke­lelawar yang busuk, tak ada sunyi yang ber­khianat, tak ada lumut yang meracun sukma. Maka, kurelakan mereka merahasiakan cinta yang kusangka busuk itu. Kurelakan mereka mereguk lendir cinta di kegelapan gua yang senantiasa dialiri oleh wangi kercik sungai itu.”

Dan, karena kata-kata itu tak pernah mem­buncah dari bibir Hilda yang senantiasa dioles lipstik ungu, Herma menganggap Hilda tak bisa lagi diajak bercakap tentang ayahnya. Sampai saat itu, sampai Paul di compact disk meleng­kingkan desah, menatah kesengsaraan dunia…. Herma mengira kuda gagah itu menjelma putri cantik dan dengan mulutnya yang menganga melebihi lubang gua, dia mengisap sang ayah tanpa sisa. “Ayah hanya tersesat. Suatu saat dia pasti kembali, Tbu.”

Suara Herma yang mencericit tanpa diduga itu membuat Hilda putus asa. Dan, itu menimbulkan energi dahsyat yang menyebabkan Hilda ber­gegas merapikan tempat tidur Herma clan men­jawab segala pertanyaan anaknya dengan ja­waban yang asal kena. “Baiklah, Herma… kau boleh mengoles wajah ayahmu dengan warna apa saja. Mau kuning, hijau, ungu, atau biru, Ibu tak akan m.empermasalahkan lagi. Sekarang tidur­lah! Tidurlah, agar kau bisa bangun pagi dan lebih awal bermain-main dengan teman-teman­mu di sekolah.”

Lalu percakapan pun terkunci. Diiringi leng­king suara-suara aneh dalam Incantation yang melarat-larat, Herma pura-pura tidur sambil memeluk guling bergambar Harry Potter, sedangkan Hilda bergegas memasuki kamarnya sendiri, memasuki dunia sunyi bersama Leli. “Herma mulai mempertanyakan ayahnya, Leli: Dia menyangka kita tak akan mampu menatah kehidupannya dengan segala peluk dan peng­hiburan.”

Leli tak menjawab. Teriakan-teriakan para pemusik dalam nada aneh dan asap rokok dari bibirnya yang merekah lebih menenggelamkan sukmanya ke negeri yang jauh, ke gua purba yang tak teraba oleh kesedihan yang paling perih sekalipun.

NAMUN, Leli dan Hilda keliru besar jika menganggap Herma sudah mengembara ke alam mimpi. Sambil menggigit ujung bantal, dia masih mereka-reka warna ganjil wa­jah ayahnya. “Jangan-jangan wajah Ayah me­mang tak bewarna biru,” pikir Herma, “Ja­ngan-jangan Ayah memang selalu mengenakan topeng kuning keemasan?”

Karena pikirannya senantiasa mende­ngung-dengung di kamarnya yang bercat biru, dia tak menemukan jawaban memuaskan.

Meski demikian, dia tetap mereka-reka wajah ayahnya hingga ingatannya melenting-lenting ke pereakapan-percakapan seru bersama Niko di kolam belakang sekolah beberapa hari lalu.

“Niko, mengapa kau olesi wajah ayahmu de­ngan warna merah?” tanya Herma saat itu. “Sebenarnya aku juga kesulitan menggambar wajah ayahku, Herma. Dia pergi sebelum aku bangun tidur dan pulang setelah aku nyaris terlelap. Yang jelas-jelas kutahu, setiap malam dengan tubuh sempoyongan, ayah menggoyang-goyangkan wajahnya yang selalu meme­rah.”

“Dan, mengapa wajahnya kaugambar seperLi harimau?”

“Dengan suara menggelegar dia selalu men­jambak iambut ibuku. Setelah ibuku menangis sesenggukan, dia merokok di sudut ruangan sam­bil terus-menerus menenggak minuman langsung dari botol. Wajahnya terus memerah dan me­nyeringai seperti harimau, Herma. Dan, itu mem­buatku ketakutan setengah mati:’

“Ibumu tidak melawan?” Niko menggeleng.

“Ayahmu suka mengajak kau bermain sepak bola?”

“Ya, dia juga mengajariku berkelahi, meng­ajakku menembak tikus di selokan-selokan, dan menendang anjing yang sedang menjilat-jilat kepala anaknya:”

Saat.itu ingatan Herma melenting-lenting ke wajah Leli. Leli juga suka merokok dan me­nenggak minuman langsung dari botol. Perem­puan gagah itu juga kerap mengajarinya me­nendang bola keras-keras.

“Mama Leli juga kerap mengajak aku dan Ibu berburu celeng ke tenggara kota. Malah kami juga sering diajak menembak dan menga­cak-acak sarang kelelawar di gua-gua yang ge­lap.”

“Kamu tidak takut?”

Herma menggeleng. Gelengan itu di luar du­gaan bisa menggigilkan Niko dan membuat bo­cah cilik itu tiba-tiba berdiri, meninggalkan Her­ma yang masih tafakur memandang gelombang transversal yang melingkar-lingkar di kebiruan kolam. “Aku benci Ibu. Aku benci Mama Leli. Mereka membuat teman-temanku takut berma­in-main denganku;” pikir Herma.

Dan, pikiran-pikiran berbahaya itu terus-me­nerus melenting-lenting di kamar malam itu dan kian membuat Herma tak bisa memicingkan mata. “Ibu pasti masih menyimpan waj ah Ayah di album keluarga. Aku harus mencarinya,” desah Herma.

Lalu perempuan kencur itu pun berjing­kat-jingkat ke ruang tamu. Karena takut ke­pergok, dia mengintip apa yang tengah dilakukan Hilda dan Leli dari lubang kunci. “Jangan-ja­ngan mereka belum tidur?”

Dan, benar.. Hi1da dan Leli memang belum tidur. Mereka tengah berpelukan. Berpelukan? Ya. tetapi dalam pandangan yang samar, Herma seperti melihat kedua perempuan itu saling menggigit. Dia kasihan kepada Hilda karena tampaknya Leli terus-menerus menjambak ram­but ibunya.

“Mengapa ibuku tak melawan? Mengapa wajah Ibu berbinar-binar? Mengapa mereka malah ter­tawa cekikan?”

Pertanyaan-pertanyaan itu hanya melen­ting-lenting di kepala Herma. Karena takut ke­pergok, dia bergegas mencari album keluarga.

“Ini dia! ” desis Herma sambil setengah berlari ke kamarnya, “Tetapi, kenapa tak satu pun potret Ayah terpasang di album ini?”

Cukup lama Herma membolak-balik album itu. Yang dia lihat hanya Hilda dan Mama Leli yang terus-menerus berpelukan di sembarang tempat di sembarang waktu. Kadang-kadang mereka tertawa-tawa di jalan-jalan sambil meng­gandeng dirinya. Ada pula foto Leli memanggul senapan sambil menyeret bangkai celeng,

“Jangan-jangan wajah Ayah disembunyikan Ibu di dalam gua,” pikir Herma.

Karena itu, dia pun mencari foto-foto yang mengabadikan keindahan gua-gua di tenggara kota. Tak ada sepotong wajah lelaki terpampang, di album warna pink itu. Sayang sekali, di tengah-tengah kesuntukan mencari wajah ayah­nya yang mungkin tersembunyi di dalam gua, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. “Kau belum tidur, Herma? Kalau tak tidur, Pangeran Kelelawar akan mencekikmu! ” suara Leli menggelegar.

Herma tak menjawab. Dia hanya mendengar­kan suara kercik shower membelah keheningan malam. Kercik yang senantiasa dia dengar se­telah Hilda dan Leli mendesah-desah tak keruan sambil mendengarkan lagu-lagu mistis yang di­nyanyikan Paul Gutama, Deep Forest, atau Sarah Brightman.

HARI itu Herma tak ingin masuk sekolah. Leli sebagaimana biasa telah berangkat ke kantor mengendarai jip merah yang suara knalpotnya melengking-lengking sehingga me­nyebabkan sayap-sayap burung kenari yang di­pelihara di teras rumah seakan-akan rontok. Hilda belum bangun. Biasanya, sebentar lagi dia bangkit dari ranjang, menyalakan tape recorder, bersenam, dan setelah itu mengetuk kamar Her­ma keras-keras.

Karena tak ingin didera suara-suara yang sa­ngat dibenci, kali ini Herma bergegas menyusup ke kamar ibunya. Tahu ada yang berjingkat-jing­kat ke ranjang, Hilda mendadak membenahi selimutnya. Rupa-rupanya dia masih telanjang. “Pukul berapa, Herma?”

Herma tak menjawab. Jari telunjuknya yang mungil menunjuk jarum jam dinding warna me­rah jambu yang telah menunjuk ke angka de­lapan dan dua belas.

“Ya, Tuhan, mengapa tak kau bangunkan Ibu? Mengapa tak meminta Mama Leli mengantar ke sekolah’?” kata Hilda sambil melilitkan selimut hingga ke bahu. ,

“Aku tak ingin membuat teman-temanku ke­takutan melihat Mama Leli, Ibu.”

“Takut? Mengapa harus takut?”

“Niko bilang wajah Mama Leli seperti se­rigala.”

“Dan, kau yakin wajah Mama Leli seperti serigala?”

Herma menggeleng.

“Syukurlah: Tetapi, mengapa kau menggigil, Herma?”

“Aku mendengar suara aneh dalam tidurku, Ibu.”

“Suara dalam tidur? Suara siapa?”

“Mungkin Ayah. Mungkin hantu. Ia muncul dari buku gambarku.”

“Ibu juga pernah mendengar suara-suara se­macam itu. Kau tahu apa yang terjadi setelah suara-suara itu mengganggu tidur kita?”

Sekali lagi Herma menggeleng.

“Setelah itu Ibu mendapat surat dari ayahmu,” Hilda berbohong.

“Aku juga akan mendapat surat dari Ayah?” “Ya, kau akan membacanya sampai senja tiba, sampai kau bisa mengoles warna paling pas untuk wajah dia di buku gambarmu. Sekarang, kembalilah ke kamarmu. Tunggulah sampai Pak Pos mengetuk pintu”

TAK ada cara lain kecuali menipu Herma, pagi itu Hilda bergegas ke kantor pos. Dengan merengek-rengek, dia meminta se­orang pengantar surat agar bersedia mengirim­kan secarik surat dalam amplop biru ke Jalan Anyelir 205, ke rumah mungil yang dia tempati bersama Herma dan Leli. “Dalam surat yang kusemprot parfum paling wangi itu, aku telah menyertakan foto ayahnya. Katakan kepada anakku, surat itu berasal dari ujung angin.”

“Ayahnya? Dan ujung angin?” desah pengantar surat itu setengah bingung setengah takjub. “Ya. Maaf… aku dan ayah Herma telah bercerai dan kini tak kutahu di mana suamiku tinggal. Jadi, katakan saja dari ujung angin atau kota yang jauh. Sampean tak keberatan bukan?” Pengantar surat itu tercenung. Namun, dia sungguh-sungguh tak bisa menolak rengekan Hilda. “Tolonglah… dia sangat merindukan ayah­nya,” desah Hilda memelas.

Begitulah, saat Hilda sibuk dengan dunia sa­yur-mayur di pasar, pengantar surat itu memacu sepeda motornya ke Jalan ituyelir. Masih takjub menimang-nimang surat, dia memencet bel di pagar bermotif daun-daun pisang yang meng­hijaukan rumah itu.

“Jalan ituyelir 205? O, bukan, bukan. Sei­ngatku aku harus memberikan surat ini ke rumah nomor 207 atau 209. Ah, mengapa aku tiba-tiba berubah menjadi pria pikun?” pikir pengantar surat itu seraya menyesali kebimbangann,ya.

Namun, bel telah berbunyi dan menyebabkan Herma berlari ke beranda. “Surat dari Ayah?” teriak Herma kegirangan.

Tak ada jawaban. Pengantar surat itu merasa telah melakukan kesalahan. Tak ingin keliru, dia berharap bertemu Hilda atau siapa pun yang menitipkan surat beramplop biru yang sangat harum itu.

“Ibumu ada di rumah?” Herma tak segera menjawab.

“Maaf, apakah ibumu ada di rumah?” desis pengantar surat itu sekali lagi.

“Ibuku?” lenguh Herma dalam nada tercekik, “Ibu Hilda atau Mama Leli?”

Mendengar pertanyaan balik Herma yang dia sangka kacau, pria berwajah keras itu kian bimbang memberikan surat. “Tidak! Tidak! Mungkin aku salah alamat, Tuan Putri. Mungkin tak se­harusnya aku memencet bel di rumah ini. Aduh, lagi pula langit kian mendung, aku harus segera mengantar surat-surat lain. Jadi, masuklah ke rumah kembali. Tunggulah surat dari ayahmu besok, lusa, atau beberapa hari lagi…:”

Herma hanya merunduk. Hanya merasakan angin dari ujung angin berhenti berembus. Lalu, sambil menyaksikan pengantar surat itu melesat seperti pria bertopeng emas dengan sa­yap di bahu menunggang kuda gagah ke tenggara kota, dia menggores-goreskan jari telunjuknya ke tanah basah; membentuk wajah tanpa rupa, tan­pa mata, tanpa jiwa…. Apakah pengantar surat itu juga akan kehilangan wajahnya, Ibu?

Semarang, 2003

Catatan:

1) Penunggang Kuda dari Atas ituqin adalah judul patung karya pematung G Sidharta:

2) Ungkapan penyair Pablo Neruda kepada Mario Jimenez dalam novel Il Postino karya itutonio Skarmeta

3) Der Mond Im Wassertropfen adalah kom­posisi karya Paul Gutama yang dimainkan ber­sama Banjar Gruppe Berlin. Incantation adalah salah satu nomor magis lain yang juga me­ngesankan. Sayang compact disc pria asal Yogyakarta yang kini tinggal di Jerman itu tak beredar luas di Indonesia.

4) Pangeran Kelelawar adalah tokoh romantis pengisap darah yang kerap muncul dalam cer­pen-cerpen Bre Redana.

Kembar Buncing

Oleh: Wayan Sunarta

TIGA hari lalu, Luh Sarni melahirkan bayi kembar. Yang lebih mengejutkan, bayi tersebut bukan kembar biasa. Tapi kembar buncing, kembar laki-perempuan!. Meski lahir di rumah sakit di kota kabupaten, berita telah menyebar dan menggegerkan warga desanya.

KELAHIRAN bayi kembar buncing dianggap mem­bawa aib yang akan men­cemari desa. Menurut awig-awig setempat, orangtua dan bayinya harus dia­singkan selama 42 hari di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, ke­luarganya juga diwajibkan meng­gelar upacara bersih desa di per­empatan desa yang menelan biaya tidak sedikit.

Tubuh Luh Sarni, yang masih le­mas karena melahirkan, kini sema­kin lemas. Ia masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiga hari lagi dokter membolehkannya pulang. Dengan gundah, ia menatap kedua bayinya yang tidur lelap. Suaminya, Wayan Darsa, tercenung di tepi ran­jang.

Ombak kebahagiaan di hati pa­sangan muda itu perlahan ditelan gelombang kecemasan. Darsa telah membayangkan bencana yang akan menimpa mereka jika pulang ke de­sa. Atas nama aturan adat, mereka tidak akan diperlakukan sebagai­mana layaknya manusia.

“Apa yang harus kita lakukan, Bli?”

“Aku sendiri tidak tahu, Luh. Aku bingung, mesti harus berkata apa pada tetua adat dan warga desa? Kita tidak pernah meminta bayi ini lahir kembar buncing. Ini sudah ke­hendak Dewata!”

“Kenapa warga desa masih saja percaya dengan takha,yul,” gumam Luh Sarni.

“Kau tahu sendiri, Luh, kita ting­gal di sebuah desa di mana tidak satu pun warganya mengenyam pendidikan tinggi seperti kita. Mereka hanya akrab dengan sawah dan lumpur,” Darsa mencoba menghibur meski hatinya pedih.

“Beginilah akibatnya. Setahun la­lu Bli sendiri yang memutuskan tinggal di desa? Saya sudah bilang, lebih nyaman di kota. Kita bisa be­bas menentukan jalan hidup kita sendiri, jauh dari aturan adat dan berbagai beban upacara rumit.”

“Tapi; Luh, aku masih memiliki Ibu. Aku tidak tega meninggalkan­nya sendirian di desa. Aku anak lelaki satu-satunya. Kau tahu ‘kan adik perempuanku sudah menikah. Aku tidak punya pilihan lain, selain bertahan di desa menemani Ibu. Se­lain itu, aku juga ditugasi mengelola tanah warisan Ayah.”

“Tanah warisan ‘kan bisa dijual. Lalu ajak saja Ibu tinggal di kota”. Luh Sarni mencoba menguasai emosinya. “Tapi sudahlah percuma berdebat dengan Bli. Sekarang yang perlu dipikirkan, bagaimana menyelamatkan bayi ini agar tidak diasingkan di kuburan!”

“Begini saja, Luh tetap tinggal di sini. Bli akan pulang ke desa, men­coba berunding dengan tetua adat. Aku harap mereka mengerti bahwa zaman telah berubah.”

“Tidak ada gunanya berunding dengan orang-orang kolot itu. Bli akan sakit hati sendiri. Coba se­sekali turuti kata-kata saya, kita tinggal di Denpasar. Sementara waktu bisa numpang di rumah bi­biku.”

Darsa tidak menjawab. Ia han,ya menarlk napas panjang dan meng­hembuskannya • dengan berbagai perasaan campur aduk. Kemudian ia mengecup kening istrinya. Me­natap lembut kedua bayinya. Lalu melangkah meninggalkan ruangan dengan keyakinan yang berusaha dibangunnya.

Senja hampir pudar ketika Darsa tiba di desanya yang terpencil di lereng bukit. Untuk mencapai de­sanya dari kota kabupaten, han,ya menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam. Sepanjang perjalanan pulang ia terus memikirkan nasib bayinya. Seingatnya, ia pernah membaca di koran bahwa sanksi adat bagi bayi kembar buncing dan keluarganya telah dihapuskan pu­luhan tahun lalu. Tapi, kenapa de­sanya masih menganggap bayi kem­bar buncing membawa aib? Kenapa aturan kuno itu belum dihapus dari awig-awig? Tidakkah mereka sadar hidup di abad dua puluh satu?

Darsa masih ingat, sekitar dua tahurr lalu pernah terjadi peristiwa pengasingan bayi kembar buncing di desa tetangganya. Bayi dan orang­tuanya diasingkan dekat kuburan. Seluruh isi rumah dianggap leteh dan harus disucikan dengan upa­cara khusus. Selama masa peng­asingan, mereka juga tidak dibo­lehkan memasuki tempat-tempat suci atau bersembahyang di pura.

“Tidak manusiawi sekali!” geru­tunya dalam hati.

SAMPAI di rumah Darsa di­sambut wajah cemas ibunya. “Tadi pagi tetua adat datang menanyakan bayimu. Mereka ingin memastikan kebenaran kabar ten­tang bayi kembar buncing itu:” “Lalu Meme ngomong apa?” “Meme bilang berita itu tidak be­nar. Tapi, tetua adat tidak percaya. Mereka memaksa Meme berkata ju­jur. Kalau tidak, mereka akan me­lakukan tindakan yang lebih tegas: “

“Bayi itu tidak bersalah, Me. Kita tidak boleh membiarkan mereka membawa membawa bayi itu ke kuburan untuk santapan leak”.

“Tapi kita bisa apa? Besok sore tetua adat bersama warga akan mengadakan paruman mendadak untuk memutuskan masalah ini”

“Keluarga kita diundang?”

“Tidak.”

“Berarti mereka akan mengambil keputusan secara sepihak tanpa mau mendengar pembelaan dari ki­ta.”

“Karena keluarga kita dianggap membawa aib. Kita hanya bisa pas­rah dengan keputusan mereka.”

“Tidak bisa, Me! Saya harus bi­cara dalam paruman itu!”

“Kau tidak mengerti tabiat desa ini. Kau sama saja dengan ayah­mu! “

Darsa menuju ke kamarnya. Pi­kirannya berputar-putar, seperti be­nang kusut. la merasa sanksi adat ini sangat tidak adil karena hanya berlaku bagi kalangan rakyat biasa. Hanya keluarga bangsawan yang boleh melahirkan bayi kembar bun­cing. Dan rak,yat harus bergembira sebab kelahiran tersebut dianggap membawa berkah dan kemakmur­an. Namun, kalau bayi tersebut lahir dari rakyat biasa dianggap aib ka­rena menyamai raja.

“Sungguh tidak adil! Aturan ini harus dihapus dari awig-awig desa,” gumam Darsa kesal. Karena lelah jiwa dan raga, ia akhirnya tertidur pulas.

BALAIDESA dipenuhi warga. Paruman belum dimulai. Warga membentuk beberapa kerumunan kecil di pinggir jalan, di warung tuak, dan warung kopi. Me­irka ngobrol sangat perlahan dan hati-hati, melihat kiri-kanan, sea­kan takut suara mereka akan mem­bangunkan hantu-hantu kuburan.

“Mengerikan! Desa kita akan di­timpa kekeringan berkepanjang­an.’

“Panen akan gagal lagi.” “Sebulan lalu ada anak anjing lahir berkaki lima. Seminggu lalu bunga bangkai mekar di jaba pura. Sekarang bayi kembar buncing! Duh… Dewa Ratu, bencana apa yang akan menimpa desa ini?”

“Beberapa malam lalu sa,ya me­lihat sinar biru melesat dari arah bukit: “

‘Aku juga.melihatnya.”

“Ya, aku juga lihat. Tapi, sinarnya biru bercampur merah.” “Akhir-akhir ini memang sering terjadi siat peteng di pinggir desa.” “Kemarin malam aku malah men­dengar suara burung gagak di atap rumah Darsa:’

“Kau tahu, hujan sudah hampir tiga bulan tidak turun di desa ki­ta?”

“Semoga desa kita diberi keku­atan mengatasi aib ini.”

Begitulah, wajah warga desa dili­puti berbagai kecemasan dan ke­ngerian. Mereka mengalungkan be­nang tridatu di pergelangan tangan masing-masing, sebagai penolak ba­la, pengusir roh jahat yang meng­ganggu.

Suasana desa benar-benar dice­kam ketakutan. Warga sudah me­ngunci pintu rumah mereka sekitar pukul delapan malam. Mereka merasa lebih aman berkumpul dalam rumah ketimbang berkeliaran di jalan yang sampai saat ini belum dipasangi penerangan jalan oleh pemerintah.

Tetua adat memasuki balai desa. Warga menghentikan bisik-bisiknya. Paruman berjalan alot. Dari mulut klian adat meluncur berbagai petatah-petitih dan nasihat agar ke­tenangan desa dijaga, agar warga bersatu mengusir roh jahat yang mengganggu serta bersama-sama mengatasi aib yang merumpa desa.

Sampai pada pokok masalah, de­ngan wibawa yang dibuat-buat, kli­an angkat bicara. “Awig-awig harus ditegakkan. Keluarga Darsa harus diasingkan dekat kuburan selama 42 hari. Mereka harus menggelar upacara cara agung yang akan di­pimpin oleh pemangku desa.” Warga desa mendengar dengan santun sambil manggut-manggut.

Untuk memancing reaksi warga, klian kembali angkat bicara, “Ada pertanyaan dari warga sekalian?” Para peserta paruman menunduk­kan kepala. Klian menatap mereka satu per satu. “Kalau tidak ada per­tanyaan, paruman akan…!”

“Saya bertanya, Pak Klian! ” War­ga kaget seperti melihat leak. Tidak terkecuali para tetua adat. Mereka serentak mengalihkan pandangan ke arah Darsa yang dengan tenang menaiki tangga balaidesa dan mengambil posisi duduk di depan warga menghadap klian. Warga sa­ling berbisik seperti dengung ke­rumunan lebah.

“Saudara sekalian harap tenang!” Pak Klian menatap Darsa lekat-le­kat. “Kenapa kamu datang ke pa­ruman ini?! Menurut awig-awig ka­mu…”

“Maafkan kelancangan saya, Pak Klian. Sa,ya hanya mohon penje­lasan kenapa sanksi adat mengenai bayi kembar buncing belum juga dihapuskan di desa ini, sementara pemerintah telah melarangnya pu­luhan tahun lalu?”

Warga desa tersentak mendengar kata-kata yang meluncur darl mulut Darsa. Sebagian geram dengan ke­lancangannya yang dianggap tidak menghormati paruman. Sebagian lagi diam-diam mendukung dan bangga dengan keberaniannya, meski hanya dalam hati. Mereka takut dengan tetua adat.

Beberapa warga sadar bahwa ke­luarga Darsa dan bayinya tidak ber­salah. Bayi tersebut tentu tidak min­ta lahir dari rahim Luh Sarrri, tapi semata-mata hanya karena kehen­dak Dewata. Sekarang Darsa yang mengalami nasib seperti ini, besok bisa saja menimpa warga lainnya. Namun, warga lidak mampu ber­buat apa-apa di bawah aturan awig-awig yang walau kolot, tapi harus tetap dipatuhi agar terhindar dari sanksi adat yang lebih parah.

Dengan wajah disabar-sabarkan, klian menjawab pertanyaan Darsa yang dianggapnya terlalu lancang. “Kami tidak bisa berbuat apa-apa, Nak. Peraturan itu sudah tersurat dalam awig-awig desa jauh sebelum saya atau kamu lahir. Awig-awig ini sudah di-pasupati. Jadi, kita tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mematuhinya. Dan, menurut awing-awig kamu semestinya tidak boleh menghadiri paruman ini karena kamu masih leteh. Atas kelancanganmu kamu wajib membayar denda..”. Klia menarik napas panjang mencoba mengendalikan diri. “Nah, warga sekalian paruman diakhiri sampai di sini. Sekarang silakan kembali ke rumah masing-ma­sing! “

Klian mengemasi tumpukan lon­tar yang berisi awig-awig, alat tulis, dan buku catatan, kemudian meninggalkan balai desa diiringi tetua adat yang lain. Satu per satu warga pun kembali ke rumah masing-ma­sing. Sekejap balai desa menjadi se­nyap. Hanya Darsa yang masih du­duk tercenung di tangga balaidesa. Darah mudanya mendidih. Ia me­rasa menjadi pecundang di desa ke­lahirannya sendiri. Ia merasa tidak dipedulikan, pembelaannya tidak didengar oleh tetua adat.

B ULAN hampir penuh me­nyembul dari rerirnbun pepo­honan. Kenangan demi ke­nangan masa kanak-kanak kembali berkelebat dalam benak Darsa. Ber­main petak umpet di bawah pur­nama dengan kawan sebaya. Mandi di kali yang berair jernih hingga sampai lupa waktu. Bersama kakek mengembalakan sapi di sawah sam­bil mengerjakan PR yang diberikan guru. Darsa begitu mencintai de­sanya. Desa yang menyimpan manis kenangan masa kanak-kanak.

Masih membekas dalam kenang­annya bagaimana ia menangis me­natap hamparan desanya dari jalan yang melingkari punggung bukit. Saat itu ia baru lulus SMP dan akan berangkati ke kota untuk melan­jutkan sekolah dan kuliah. Darsa beruntung mempunyai ayah seorang guru, meski hanya guru SD di desa. Ayahnya yang terus-menerus men­dorong Darsa agar sekolah dan ku­liah di kota.

Namun, sukses menyekolahkan anak di kota berbuntut pada tum­buh suburnya rasa iri hati sejumlah warga yang tidak senang pada ke­luarga Darsa. Apalagi ayahnya di­kenal sebagai warga yang paling suka bertanya dalam setiap parum­an dan paling kritis dengan kebi­jakan-kebijakan yang dikeluarkan tetua adat yang sering kali meng­atasnamakan awig-awig yang tidak boleh dibantah.

Karena dianggap mengangkangi awig-awig dan wibawa tetua adat, ayahnya dikucilkan dari desa adat sampai batas waktu yang tidak di­tentukan. Bahkan, ketika ayahnya meninggal, mayatnya tidak boleh di­kubur di pekuburan desa adat, ke­cuali pihak keluarga bersedia meng­akui kesalahan almarhum dan membayar denda ,yang besarnya te­lah ditentukan oleh awig-awig.

Demi penguburan mayat ayahnya, Darsa bersedia mengakui kesalahan ayahnya di hadapan warga dan membayar denda sesuai ketentuan. Dalam hati, Darsa tidak mengerti apa kesalahan ayahnya? Apakah hanya karena bersikap kritis terhadap awig-awig dan suatu kebijakan adat dianggap kesalahan?

Dendam tetua adat rupanya be­lum juga surut. Kim keluarganya kembali dikenakan sanksi adat, ha­nya karena melahirkan bayi kembar buncing. Sebagai seorang sarjana, Darsa merasa malu karena tidak berdaya menghadapi awig-awig de­sa adatnya sendiri. la merasa tidak mampu berbuat apa-apa untuk membenahi atau melususkan awig-awig yang kolot dan sering kali dibengkokkan oleh tetua adat untuk kepentingannya sendiri.

Hasil paruman telah diputuskan. Luh Sarni beserta bayinya akan di­asingkan di pinggiran desa dekat kuburan. Selain itu, keluarga Darsa diwajibkan menggelar upacara ber­sih desa. Memikirkan hal itu ia ngeri sendiri, membayangkan kedua ba­yinya akan hidup di kuburan selama sebulan lebih.

TIADA cara lain kecuali harus menentukan pilihan, meski berat harus dijalankan. Pa­gi-pagi sekali Darsa menjelaskan rencananya pada ibunya. Perempu­an paruh baya itu kaget dan sedih mendengar keputusan anaknya.

“Kau tidak mau menghadapi ke­nyataan. Kau tahu ayahmu masih di kubur di sini dan belum di-aben?”

“Me, ini pilihan terakhir. Tidak ada jalan lain lagi. Di kota tidak ada sanksi adat yang kolot seperti ini!”

“Kalau itu kehendakmu, silakan kau berangkat sendiri. Biarlah Me­me tinggal di sini merawat kuburan ayahmu. Meme masih mencintai de­sa ini, kau mengerti? Meme ,yakin suatu saat desa ini akan berubah menjadi lebih baik.”

Darsa tidak mampu berkata apa lagi. Untuk kedua kalinya ia me­nangis meninggalkan desa kelahir­annya. Kini batinrlya luka parah karena harus berpisah dengan ibu­nya.

Kalau keputusan awig-awig itu masih disebut kebenaran, Darsa pun telah memilih kebenarannya sendiri: mengikuti saran istrinya, hidup di kota, bil a perlu melepas agama yang diwarisinya sejak lahir. Ia tidak pernah tahu, entah kapan akan kembali ke desa yang sangat dicintainya itu.

Denpasar, 29 Januari 2004

Keterangan:

Awig-awig: aturan-aturan ¢dat yang diwarisi turan-temuran.

Aben/ngaben: upacara pembakaran mayat. Bli: abang, kangmas, kakak.

Benang tridatu: beriang tiga waraa (hitam, me­rah, dan putih) sebagai peaolak bala.

Caru agung: upacara besarlbersih desa untuk meagusir roh jahat, wabah, dan menetralkan desa dari pengaruh aib.

Jaba: luar

Kembar buncing: kembar laki dan perempuan. Konon, raja Bali kuno pernah memiliki anak kem­bar buncing, Sri Masula-Masuli. Karena diyakini telah melakuknn hubungan intim selama dalam kandungan, mereka akhirnya dikawinkan dan menjadi raja-ratu yang membawa Bali ke arah kemakm.uran. Sanksi adat bagi kelahiran bayi kembar buncing telah dihnpus oleh Dewan Per­wakilan Rakyat Daerah Bali dalam Paswara No­mor 10/DPRD tertanggal 12 Juli 1951, yang ditandatangani oleh Ketua Dewan, I Gusti Putu Merta. Namun, sampai kini beberapa desa di pedalaman Bali masih memberlakukan sanksi adat tersebut. Klian: ketua.

Leteh: cemar, aib.

Leak: orang yang mempraktikkan ilmu hitam.

Meme.’ mama, ibu.

Paruman: rapat/sidang adat.

Pasupati: pemberkatan atau pengesahan senjata pusaka, awig-awig, melalui ritual khusus.

Pemangku: pemimpin upacara agama Hindu di Bali.

Siat peteng: perang malam bagi yang suka menguji kesaktian, biasanya perang tanding an­tar leak berupa benturan-benturan bola api di langit malam.

Seorang Perempuan Amerika di Baghdad

Oleh: Satrio Arismunandar

Pertama kali aku ketemu Nancy Goodhead adalah ketika pesawat Iraqi Airways, maskapai penerbangan Irak, yang kami tumpangi baru saja mau meninggalkan bandar udara Alia di Amman, Yordania. Waktu itu Desember 1990, beberapa bulan setelah tentara Irak menyerbu Kuwait, dan kemudian pasukan Multinasional yang dipimpin Amerika Serikat sudah mencanangkan serangan ker Irak.

RIBUAN orang, ter­masuk para diplomat dan pekerja asing, meninggalkan Irak untuk menghindari perang. Namun, di bawah ba­yang-bayang serangan Amerika dan sekutunya, sejumlah orang justru mau masuk ke Irak. Salah satunya adalah aku, sebagai anggota organisasi perdamaian, yang berkepentingan untuk mencegah perang. Mereka yang memilih masuk ke Irak, umum­nya hanyalah warga Irak sen­diri, petugas PBB, jurnalis, atau aktivis perdamaian dan kema­nusiaan.

Dalam antrean, ketika mau memasuki pesawat, kopor Nan­cy-yang waktu itu belum ku­kenal-jatuh. Aku membantu mengambilkannya. “Terima ka­sih,” ujarnya, sambil tersenyum ramah. Ia mengenakan jeans bi­ru, sweater merah jambu, dan jaket kulit hitam. Rambut­nya yang panjang sebahu ber­warna kecoklatan. Kutaksir, umur perempuan ini sekitar 32 tahun.

“Apakah- Anda datang ke Irak, juga sebagai anggota ke­lompok perdamaian?” ia ber­tanya.

“Ya. Saya dari Indonesia. Sa­ya tergabung dalam Gulf Peace Team, organisasi perdamaian yang berbasis di London dan didirikan oleh Yusuf Islam. An­da tentu tahu, dulu ketika masih menjadi musisi dunia, namanya Cat Stevens,” sahutku.

“Ah, ya. Tentu saja. Salah sa­tu lagunya sangat saya sukai. Judulnya, kalau tak salah Mor­ning Has Broken, bukan?” tu­turnya. “Maaf, saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Nancy Saya tergabung da­lam organisasi perdamaian The Coalition for World Peace and Friendship. Ini organisasi Ame­rika, saya juga orang Amerika. Tetapi, kami menentang perang, sama seperti Anda.”

Ternyata kami dapat tempat duduk bersebelahan di pesawat. Maka, sepanjang penerbangan dari Amman ke Baghdad, ibu­kota Irak, kami mengobrol ten­tang banyak hal. Nancy meng­aku berasal dari Ohio. Ia pernah menikah, tanpa dikaruniai anak, kemudian bercerai. Ia su­dah bergabung dengan organi­sasi perdamaian dalam bebe­rapa bulan terakhir, sesudah berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan perangkat lunak komputer. Pekerjaan tersebut sebetul­nya cocok dengan bidang ilmu­nya, sebagai lulusan Jurusan Teknologi Informasi di Colum­bus State University Nancy berhenti dari pekerjaannya, de­ngan alasan, “ingin mencari pe­kerjaan baru yang lebih ban,yak berinteraksi dengan manusia lain:” Sambil menunggu mem­peroleh pekerjaan lain, ia ikut aktif di organisasi perdamaian. Menurut Nancy, krisis Irak ini menyentuh perasaannya untuk terlibat lebih dalam, dengan terjun langsung dalam aksi me­nentang perang.

Tak terasa pesawat kami sam­pai di Bandara Internasional Saddam, sekitar 25 kilometer dari pusat kota Baghdad. Kabut tipis ditambah udara yang di­ngin-waktu itu memang seda­ng musim dingin di Irak menambah murung suasana. Me­nurut rencana, kami para ak­tivis perdamaian akan segera menggelar demo antiperang di Baghdad, dalam dua-tiga hari mendatang.

Dan sebagai puncaknya, kami akan mengadakan kemah per­damaian di perbatasan Irak-Arab Saudi. Ini merupa­kan aksi simbolis karena para aktivis merelakan diri menjadi “perisai manusia” di antara po­sisi dua kubu yang mau ber­perang. Di wilayah Arab Saudi, saat itu telah-bercokol puluhan ribu pasukan multinasional yang dipimpin Amerika.

“AH, selamat datang! Sela­mat datang di Irak. Mohon maaf atas penyambutan kami yang apa adanya ini,” sambut seorang pria Irak kepada kami, rom­bongan aktivis perdamaian. Tu­buhnya tinggi, dan terkesan atletis. la kelihatan tampan, de­ngan kumis dan alisnya yang tebal. Namun, yang paling me­ngesankan bagiku adalah sorot matanya yang bening dan polos. Kelihatannya tidak pas dengan postur tubuhnya yang lebih ga­rang.

“Perkenalkan, nama saya Saeed Mursheed al-Majeed. Sa­ya adalah staf dari Departemen Luar Negeri Irak. Saya ditu­gaskan menjadi pemandu Anda, sekaligus melayani berbagai ke­butuhan Anda selama di Irak ini. Mari ikut saya. Mobil sudah menunggu,” ujarnya.

Ada sederetan mobil sedan dan van yang sudah menunggu kami. Aku, Nancy, dan Saeed kebetulan mendapat mobil yang sama. Nancy dan Saeed duduk di kursi depan, aku di belakang. Bersamaku di kursi belakang, aktivis perdamaian asal Jepang, Miyuki Nakajima, dan aktivis asal India, Prabha Jagannatan. Mobil kami meluncur mema-

suki kota Baghdad, menyusuri pinggiran Sungai Tigris yang Iebar dan indah itu. Jalan yang kami lalui lebar dan mulus. Be­nar-benar infrastruktur perko­taan yang bagus, yang dibangun dengan uang minyak. Baghdad adalah kota tua. Di masa ke­jayaannya, ketika Paris dan London masih desa kecil yang tak dikenal, dan Christopher Columbus belum menginjakkan kakinya di benua liar yang se­karang bernama Amerika, Bag­hdad sudah menjadi kota met­ropolitan yang makmur.

Kami menuju ke tempat penginapan sementara di Bagh­dad, sebelum berangkat ke per­batasan Irak-Arab Saudi. Orang terlihat di jalan-jalan. Denyut kehidupan di kota se­ribu satu malam ini seolah ber­jalan normal. Namun ketidak­normalan akan terasa, jika kita melihat ke atas. Di beberapa atap gedung kulihat moncong­moncong ZSU-23, senjata an­ti-serangan udara buatan Ru­sia, kaliber 23 mm. Senjata-sen­jata ini menengadah ke langit, seolah-olah tak sabar menyong­song datangnya pesawat-pesa­wat musuh.

Saeed termasuk pria menye­nangkan. Sepanjang perjalan­an,ia cepatakrab dengan para

tamunya, terutama dengan Nancy. Saeed bercerita tentang macam-macam hal, mulai dari desa asalnya, kuliahnya, karir­nya, dan keterlibatann,ya di tu­gas ini. Salah.satu hal yang ikut mendorong karirnya di Depar­temen Luar Negeri adalah asal kelahirannya di Desa Tikrit, yang juga tempat kelahiran Pre­siden Irak Saddam Hussein. Se­jauh informasi yang kudengar, Saddam memang menjadikan orang-orang dari kampung ha­lamannya sebagai basis pendu­kung yang setia.

Sebagaimana layaknya pe­muda Irak lain, yang berdedi­kasi pada karir, Saeed juga jadi anggota Partai Ba’ath. Partai berideologi campuran sosialis­me dan nasionalisme Arab ini adalah partai yang berkuasa di Irak. Jadi, Saeed memang di jalur karir yang tepat. Sayang­nya, lulusan Jurusan Sosiologi Universitas Baghdad ini belum menikah, meski umurnya ku­duga sudah 35 tahun. Katanya sambil tertawa, “Belum mene­mukan calon pendamping yang cocok:”

“Apakah calon pendamping Anda harus orang Irak? Atau orang Arab?” cetus Nancy.

“Oh, tidak. Saya bilang, pen­damping yang cocok. Artinya, bisa orang dari mana saja,” sa­hut Saeed. Lalu ia melanjutkan, setengah menggoda, “Mengapa Anda bertanya begitu? Apakah Anda punya calon untuk saya?„

Nancy tersenyum. “Pertanya­an itu belum bisa saya jawab sekarang.”

Begitulah, sejak awal perke­nalan Nancv dan Saeed, aku sudah melihat tanda-tanda ke arahnya mendekatnya hubung­an antara mereka. Proses ini pun berlanjut. Sore itu, ketika kami sudah tiba di penginapan dan bersiap untuk perjalanan ke perbatasan besoknya, aku beberapa kali memergoki Nan­cy dan Saeed sedang mengobrol berdua.

Pada malam harinya, aku, Miyuki dan Prabha mengisi waktu dengan berjalan-jalan di pinggiran Sungai Tigris. Di se­buah restoran ikan bakar di pinggir sungai, kami sekali lagi bertemu Saeed dan Nancy. Keduanya menyapa kami dengan ramah, dan mengajak kami ber­gabung. Kami pun bergabung, dan jadilah malam itu malam yang akrab untuk kami semua. Sambil menyantap ikan bakar, di bawah kerlap-kerlip bintang di langit kota Baghdad, untuk sesaat kami lupa bahwa perang siap pecah kapan saja.

SAEED dan Nancy berasal dari dua negara yang sedang berperang. Tetapi, hubungan antara mereka adalah sesuatu yang kupikir lebih mendasar, hubungan antara laki-laki dan perempuan. Ini soal perasaan, soal kebutuhan manusia. Tidak ada hubungannya dengan po­litik antarnegara. Setidaknya itulah yang kulihat waktu itu. Aura Baghdad, kota kuno yang pernah menjadi pusat kekha­lifahan dinasti Abbasiyah ini, tampaknya memberi romantis­me tersendiri.

Hari berikutnya, karena ke­bersamaan dalam kegiatan ke­lompok perdamaian, aku makin akrab dengan rekan-rekan lain di kelompok ini, termasuk ten­tunya dengan Nancy dan Saeed, yang sebetulnya bukan anggota tim perdamaian. Kami mela­kukan aksi unjuk rasa anti-pe­rang di Baghdad, bersama ke­lompok pelajar sekolah mene­ngah Irak. Lalu malam harinya, ada acara meditasi bersama un­tuk perdamaian, yang dipimpin Yunichiro Miyazawa, seorang pendeta Shinto dari Jepang.

Esok paginya, kami berang­kat ke perbatasan Irak-Arab Saudi, untuk mendirikan ke­mah perdamaian. Namun, kami hanya sempat seminggu tinggal di situ, karena Pemerintah Irak lalu memulangkan kami semua ke Baghdad. Alasannya, perang tampaknya akan segera pecah. Pemerintah Irak khawatir kami akan menjadi korban, dan Pe­merintah Baghdad tak ingin di­salahkan karena hal-hal terse­but.

Tiga hari kemudian, perang memang betul-betul pecah. Ma­lam itu langit kota Baghdad memerah. Sejumlah gedung pe­merintahan meledak dan ter­bakar, ketika bom-bom dari pe­sawat koalisi pimpinan Ame­rika mulai berjatuhan. Suara sirene tanda bahaya meraung­raung, diselingi rentetan tem­bakan dari artileri dan senjata anti-serangan udara Irak.

Misi perdamaian kami gagal. Aku memutuskan pulang ke In­donesia karena praktis tak ada lagi yang bisa kulakukan. Pra­bha dan Miyuki jua punya pi­kiran serupa. Sedangkan Nancy mengatakan, masih akan tinggal beberapa hari lagi di Bagh­dad. Ia tak mengatakan alas­annya, tapi kuduga karena ia tak ingin cepat-cepat berpisah dari Saeed.

Esoknya, aku, Miyuki dan Prabha pulang dengan jalan da­rat ke Amman, Yordania, ka­rena semua penerbangan ke dan dari Irak sudah ditutup. Saeed dan Nancy mengantar kami sampai taksi yang kami carter. Sebelum berpisah, kami ber­janji untuk tetap saling kontak. Saeed dan Nancy melambai, ke­tika taksi kami melaju mening­galkan tempat penginapan.

Aku tak banyak mendengar kabar lagi tentang Saeed dan

nun sesudah berakhirnya Pe­rang Teluk, persisnya tahun 1992, Nancy dan Saeed meni­kah di Baghdad. Saeed tetap bekerja di Deplu Irak. Karirnya makin menanjak. Sedangkan Nancy kemudian bekerja di sebuah badan PBB, yang meng­urusi program bantuan pangan untuk Irak.

AKU baru bertemu Saeed lagi tahun 1999. Ia sedang meng­unjungi Kedutaan Besar Irak di Jakarta dalam suatu tugas dari kantornya. Saeed meneleponku dan kami pun bertemu di se­buah restoran makanan Arab di Jalan Raden Saleh. Sambil me­nyantap kebab, kami mengobrol tentang masa lalu, ketika pe­rang tahun 1991. Tetapi, yang lebih ingin kuketahui adalah kabar tentang Nancy, istri Sae­ed sekarang.

“Aku minta maaf, Rio, tidak memberi kabar padamu tentang pernikahan kami waktu itu. Se­mua berlangsung begitu cepat, dan aksesku keluar juga sangat sempit. Untunglah, Nancy ma­sih menjaga kontak dengan Mi­yuki sehingga kaupun akhirnya tahu tentang pernikahan kami,” tutur Saeed. Ia tampak sedikit lebih tua, tapi senyumnya masih ramah seperti Saeed yang ku­kenal dulu. Namun, senyuninya kali ini tidak betul-bebzl lepas, seperti ada yang mengganjal.

Dari obrolan berikutnya, aku membaca keprihatinan Saeed. Ini berkait dengan Nancy. Se­lama ini tidak ada persoalan serius di antara mereka, kecuali satu: soal anak. Nancy tidak mau atau belum mau punya anak. Menurutpenuturan Sae­ed, alasan yang dikeluarkan Nancy macam-macam. Mulai dari kesibukan di karir dan pe­kerjaan, yang membuatnya ter­lalu lelah dan tak punya waktu mengurus anak, serta berbagai alasan lain.

Alasan ini tak bisa dipahami Saeed. Malah bisa dikatakan, sejak awal menjalin hubungan, ia tidak pernah memperkirakan masalah ini akan muncul di an­tara mereka. Sebaliknya, dari sisi Saeed, sebagai seorang pria Arab yang sudah berkeluarga, masalah anak dan keturunan ini sangat penting. Ia mengaku tetap mencintai Nancy, tetapi soal anak ini merenggangkan hubungan mereka. Saeed masih berusaha mempertahankan perkawinan ini, dengan harap­an cepat atau lambat Nancy akan berubah pikiran.

“Itulah, Rio. Sayang, aku tak bisa tinggal lama di Jakarta. Kontaklah aku kalau kau mau ke Baghdad. Meskipun Irak ma­sih menderita akibat embargo PBB, kondisi Baghdad sekarang sudah lebih baik. Berbagai ke­rusakan akibat pemboman Amerika tahun 1991 sudah di­perbaiki. Kita akan makan ikan bakar di pinggir sungai Tigris, seperti dulu lagi,” ujarnya. Itu­lah ucapan Saeed terakhir yang kuingat, sebelum ia pulang.

Sekali dua kali, aku menerima kiriman surat atau kartu pos­n,ya. Aku tak pernah memba­yangkan, kenangan akan Nancy dan Saeed akan muncul lagi justru dalam situasi yang sangat buruk, setelah Amerika dan Inggris mengagresi Irak, Maret 2003. Ketika televisi menayang­kan gambar gedung-gedung ko­ta Baghdad, yang hancur dan terbakar, akibat dibombardir secara membabi-buta oleh me­sin militer canggih Amerika, aku hanya bisa bertanya: Di ma­na Saeed dan Nancy? Bagai­mana kabar mereka? Apakah mereka selamat?

Aku sempat berlanya ke Ke­dutaan Irak di Jakarta, tetapi pejabat di sana hanya bisa ang­kat bahu, karena kontak dengan pemerintah di Baghdad sudah terputus. Bahkan, apakah ma­sih ada pemerintahan yang efektif di Baghdad, juga tanda tanya besar. Secara tak terduga, kabar tentang Nancy dan Saeed justru kuperoleh dari Ahmad Walid, temanku dan reporter Trans TV yang bertugas meliput agresi Amerika-Inggris di Irak. Ahmad mengenalku, sejak se­cara intensif meliput gerakan antiperang dan beberapa kali mewawancaraiku.

“Mas Rio yang baik,” begitu awal pesan e-mail yang diki­rimkan Ahmad untukku. “Ke­tika meliput di Baghdad, saya sempat bertemu seorang peja­bat Deplu irak. Namanya Saeed Mursheed al-Majeed. Ketika ia tahu saya jurnalis dari Indo­nesia, ia langsung bertanya, apakah saya kenal Mas Rio. Ia sangat gembira, ketika saya ka­takan bahwa saya berteman de­ngan Anda. Maka, ia minta izin, menulis pesan pribadi buat Mas Rio. Untuk menjaga hubungan baik, saya membolehkannya meminjam notebook saya, buat menulis surat. Surat itu saya sampaikan ke Mas Rio, dalam attachment file di bawah ini.”

Kubuka attachment file da­lam e-mail Ahiiiad itu. Dan ku­kenali baris-baris kalimat yang ditulis Saeed. Aku merasa na­pasku jadi sesak: “Rio, aku tak tahu, dosa apa yang telah ku­perbuat sehingga aku harus mengalami semua ini. Mungkin kau juga memantau berita ten­tang perang di Irak, bahwa 10 hari lalu, televisi Irak mena­yangkan gambar sejumlah war­ga, yang dituduh bekerja se­bagai mata-mata Badan Inte­lijen Pusat Amerika, CIA. Satu hal yang tidak disampaikan di berita itu adalah dinas intelijen Irak juga telah menangkap Nancy! Ya, Nancy! Kau tidak percaya, bukan? Demi Allah, aku pun tak bisa percaya.”

Kuteruskan membaca. “Tapi Mukhabarat atau pihak inte­lijen Irak menunjukkan bukti alat-alat telekomunikasi, yang ditemukan di tempat tersem­bunyi, di tempat penginapan Nancy di Basra. Karena sering bertugas jauh di luar kota Bagh­dad, Nancy memang mengon­trak sebuah rumah untuk tem­pat tinggalnya di sana. Aku tak pernah tahu soal alat-alat te­lekomunikasi itu. Gara-gara itu, aku pun diinterogasi Mu­khabarat selama dua hari ber­turut-turut. Syukurlah, sejauh ini mereka percaya, aku tak terlibat dan tak tahu-menahu sama sekali dengan urusan alat telekomunikasi itu.”

“Namun, yang paling mem­buatku khawatir dan sedih, me­reka membawa Nancy. Aku tak tahu di mana Nancy sekarang, dan bagaimana nasibnya.

tetapi sekarang aku mengerti itu hal, yang selama ini mengganggu perkawinan kami. Ka­mu betul, Nancy adalah agen CIA, semuanya menjadi jelas. Ia menikahiku karena aku adalah nggota Partai Ba’ath dan berprospek menjadi pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri Irak. Tanpa kusadari, aku men­jadi sumber informasi tangan pertama, tentang apa yang berlangsung di dalam pemerintaha­n Saddam Hussein.”

“Namun entah kenapa, apapun niat awalnya menjalin hu­rungan denganku, aku percaya, Nancy benar-benar mencintaiku atau mulai benar-benar nencintaiku. Dan ia sadar, ia engah berperang dengan perasaannya sendiri. Nancy tahu, kehadiran seorang anak akan makin memperumit situasi yang ia hadapi. Karena hati kecil dan nalurinya sebagai seorang ibu, pasti akan cenderung mengikatnya pada keluarga dan su­ami. Di sisi lain, kehadiran anak sudah pasti akan mengganggu tugasnya sebagai agen.”

“Itulah yang kualami, teman­ku. Perang terus berkecamuk di Irak. Negeriku hancur, dan ke­hidupanku pun hancur. Dengan menceritakan ini padamu, aku tidak mengharapkan apa-apa. Aku hanya sedikit ingin me­legakan hatiku yang galau ini. Aku tak tahu, mesti bercerita pada siapa lagi karena makin sedikit orang yang bisa menjadi tempat mencurahkan isi hati di Baghdad ini. Dan, mereka pun tak punya waktu untuk men­dengarkan kisahku karena di bawah bayang-bayang kemati­an dan hujan bom dari pesa­wat-pesawat Amerika, setiap orang di Baghdad ini memiliki kisah sedih sendiri-sendiri… Salam dari Baghdad. Temanmu selamanya, Saeed.”

Itulah pesan terakhir yang kuterima dari Saeed. Kira-kira seminggu kemudian, aku kem­bali menerima email dari Ah­mad Walid. Isinya singkat: “Mas Rio, saya ingin menyampaikan berita duka. Kemarin malam, sebuah bom Amerika menghan­curkan gedung Deplu Irak jadi puing-puing. Sebelas orang te­was dan 36 lainnya luka-luka akibat bom berkekuatan besar itu. Sebagian besar korban ada­lah warga sipil, dan salah satu yang tewas adalah teman Anda, Saeed…”

Ah, betapa anehnya perma­inan nasib ini. Aku hanya bisa tercenung dan bersedih untuk Saeed. Namun, betapa pun tra­gisnya, nasib Saeed sudah jelas. Sedangkan tentang Nancy, ma­sih belum jelas. Hanya sebuah berita yang samar-samar, per­nah kudengar dari laporan Owen Lazenby, seorang warta­wan televisi BBC di Irak. Ka­tanya, Nancy termasuk salah satu warga asing, yang dise­lamatkan oleh pasukah khusus Amerika. Ketika itu, mereka menyerbu sebuah rumah sakit di kota Nasiriyah, Irak Selatan, untuk membebaskan enam ten­tara Amerika yang ditawan, dan secara tak terduga menemukan Nancy di sana.

Aku tak pernah lagi mende­ngar kabar tentang Nancy, se­telah itu. Mungkin, lebih baik begitu. Karena aku tak tahu, apa yang harus kukatakan atau kulakukan kalau bertemu lagi dengannya. Kebenaran tentang Nancy yang betul-betul kuya­kini cuma satu. Seorang perem­puan Amerika yang pernah ku­kenal di Baghdad.

Depok II Tengah, April 2003

Secret Lover

oleh: NN

Jakarta, 18 November, 07.18 PM.

Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam antrean ini. Perlahan saya perhatikan mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan tersebut. Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?

Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ryo, 23 m Jkt (buat chatters yang nggak tau artinya, mending balik pake mesin tik aja kali yah, hehehe…). Yah saya memang bukan lagi Ryo 23 m Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik (karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for sure, I’m not working at Tia’s office (untuk mengetahui tokoh ini, disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I’m just an employee from one of an automobile industry in Indonesia, based on North Jakarta.

Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu (pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan. Antrian tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu ’92-’95 yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah. Yah…mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.

“Ryo…, ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok sendiri?”, berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum. Hhmm….menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah…masih ada waktu cukup untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang wanita. Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di telingaku, saat satu per satu anak tangga pelaminan kuturuni. Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini di mana diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan. Hhh…sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.
“Ryo…..ini kamu? Apa kabar?”, tiba-tiba sebuah suara wanita menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian yang baru saja kualami. Sejenak saya palingkan muka mencari sumber suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri wajah para tamu sampai akhirnya kutertumbuk pada sesosok wajah yang cantik, lembut and of course, I’ll never forget. Revy, sahabatku di SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver transparan yang dikenakannya. Revy… is that really you?

Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy…. sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You’re both too close to be friends, there must be something special between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi. Yah…saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita. Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat, sambil membunuhi benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh. Saya tidak akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In fact, we live in different world. Revy adalah anak dari sebuah keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung permasalahan tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita. Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don’t belive in long distance relationship, not a second…!! Dan memang kabar terakhir darinya adalah ketika kumelepasnya di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat. Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku…..

“Ryo…, kok malah bengong? Masih inget saya nggak?”, sapa Revy ramai menyapaku. Ah… tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu saja saya ingat kamu….
“Revy…?”, balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di hadapanku kini.
“Of course…, who else?”, seru Revy sambil meninju bahuku, “Siapa lagi temanmu yang secantik ini, hah?”, katanya lagi. Huh…pede sekali, tapi memang harus kuakui….
“Apa kabar Rev?”, balasku sambil menyalami hangat tangannya. “Lho kok sendiri, cowok kamu mana?”, tanyaku cepat saat menyadari lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin rasanya memeluknya, kalau saja………
“Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh…tau dari mana kamu saya punya cowok?”, sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.
“Ah..wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya, kalau bukan pemberian seorang pria spesial”, todongku sambil cuek.
“Oh iya..yah…., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?”, balas Revy nggak mau kalah.
“Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups….”, saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan mendarat di pinggangku.
“Hhhh….gemes…masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak ilangilang”, kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya nggak mungkin teriak, banyak tamu sih…

Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan. Seems just like yesterday…. Revy kini bekerja di sebuah konsultan interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari tempatnya tinggal, di sebuah komplek apartemen yang terletak di belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama. Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya yang diberikan kepadaku saat ku tanya mengapa dia memilih untuk jadi “ekor naga”, daripada menjadi “kepala ayam” (buat mas dan mbak yang sudah terjun ke dunia kerja, pasti tahu istilah ini). Mas Harry, kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang ditempatinya hingga kini. Dan mas Heru, lelaki yang berhasil melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA. Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, segera setelah Heru menyelesaikan studinya.

Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.

Jakarta, 20 November, 12.06 PM

Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama Revy terpampang di LCD ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil menjawab telepon.
“Halo….Ryo?”, terdengar suara wanita di ujung sana.
“Yup… Apaan Rev?”, balasku segera.
“Eh Ryo…sibuk nggak ntar sore?”, tanyanya kembali.
“Ntar sore? Hhmm…enggak tuh kayaknya”, jawabku, “Assiikkk… mau nraktir yah?”, sambungku dengan pedenya.
“Huh…ge-er…”, sahutnya cepat, “Revy cuman mau ngajakin nomat, abis lagi suntuk nih Ryo”. Nomat adalah singkatan dari nonton hemat, dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli tiket (ah..semua juga udah tahu kok).
“Boleh tapi di mana?”, tanyaku lagi.
“Biasa…di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak ingat masa-masa indah kita berdua…, hahahaha….”, sambungnya diiringi gelak tawa candanya, “Revy tunggu di tempat biasanya, 1/2 6 teng yah…”. Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum ia menutup teleponnya. Tempat bersejarah? Ah… lamunan saya kembali menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang cantik-cantik, hahahaha….. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya), makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap dating oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah… mungkin itu hanya harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai dating.

Waktu menunjukkan jam 17.24 WIB ketika saya melangkahkan kaki memasuki area pertokoan tersebut. “Tempat biasa” yang Revy maksud tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St. Michael dari luar kaca. Hahaha….terasa betapa masih kecilnya kami saat itu.

Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya ku di sana. Revy telah tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil menantinya menghabiskan sisa ice cream-nya, kami pun naik ke lantai teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar. Pangsit goreng, mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa, karena Charlie’s Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.

Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah…..Revy memang telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya mempertemukannya kembali denganku.

Sesampainya di rumah, kubongkar kembali file-file lamaku, berharap mendapatkan secuil kenangan tentang Revy di situ. Dan saya berhasil mendapatkannya…..!! Dua lembar potongan karcis film “Speed” tertanda medio 94 yang lalu masih ada dalam salah satu file-file lamaku. Tersenyum ku seorang diri mengingat betapa lucu mimik wajahnya mengagumi sosok Keanu Reeves yang menjadi tokoh dalam film tersebut, 6 tahun yang lampau sambil terus mendesakku untuk mengikuti potongan rambut Keanu yang memang tengah mewabah saat itu. Hahaha…makin kayak tikus kecebur got donk kalau saya nekat memapras rambut saya meniru tokoh tersebut. Di lain pihak, entah mengapa saya suka menyimpan benda-benda yang mempunyai memori, mungkin saya adalah orang yang setia pada kenangan. Dan malam itu saya tertidur dengan senyum. Senyum tentang indahnya sebuah kenangan……

Jakarta, 1 Desember 2000, 03.19 PM

Lapar dan haus memang nyaris tidak saya rasakan, namun perasaan yang jenuh dan mengantuk yang tengah melanda diriku dengan hebat, sambil terus mencoba fokus memandangi General Managerku yang terus mengomel sepanjang memimpin rapat siang itu. Busyet…bosku ini pakai baterai apa yah, kok ngomelnya tahan banget dari tadi, pikirku sambil setengah mati menahan mata agar tidak terpejam. Memang sih dia tidak mengomeliku, namun rekan-rekan yang lain yang menjadi sasaran. Tapi tetap saja bikin bete kalau dengar orang yang ngomel melulu. Ini salah, itu salah. Ini kurang, itu kurang. Iseng kulirik ke luar jendela. Hhmmm…ruangan ini di lantai 4, kayaknya lumayan juga kalo GM-ku ini dilempar ke luar jendela, hahahaha……..

Tet…..bunyi teleponku sekali, cukup mengejutkanku. Saya rupanya lupa untuk men-set silent mode sebelum meeting tadi dimulai. Untung cuma SMS, coba kalau phone call yang masuk, bisa bikin ribut seruangan meeting donk. Sejenak kulirik SMS yang masuk. Ah…dari Revy yang mengajakku keluar mencari makan bersama sore nanti. Lumayan lah, malam libur seperti ini ada juga yang bisa dikerjakan. Berarti selesai meeting, saya harus menelponnya kembali untuk memastikan jadwal dating kita sore ini. Dating? hah? mimpi kamu…!!

Sejak kita bertemu lagi, memang sering kami berjalan-jalan seusai jam kantor. Hampir 2 hari sekali kami jalan, pun hanya untuk dinner dan mengobrol serta bercanda. Rasanya tidak pernah habis bahan obrolan kami. Entah mengapa kami makin terasa dekat satu dengan lainnya. Revy pernah bilang kalau jalan dengan saya banyak ketawanya. Dia bisa bebas bercanda, ketawa, bahkan sampai ngakak. Katanya lagi, komentar-komentar saya sering mengejutkannya, dan membuatnya tidak bisa berhenti untuk tertawa. Rasanya ramai, seperti waktu masih muda dulu, ujarnya lagi. Dia bilang belum ada seorangpun kecuali saya yang mampu membuatnya dapat mengekspresikan apapun rasa di dalam hatinya dengan bebas, tidak juga Heru, tunangannya. Katanya berjalan dengan tunangannya itu adalah jalan-jalan serius, dinner di tempat-tempat yang serius (maksudnya formal kali yah?), membicarakan hal-hal yang serius. Datar tanpa kejutan, tanpa gejolak. But I love him anyway, sambungnya lagi.

Tidak terasa semakin hari kita semakin dekat. Semakin sering kita jalan, ada sesuatu yang mulai mengikat perhatianku kepadanya. Semakin ku mengenal kembali dirinya, seperti saat-saat dulu. Ah….kalau saja cincin itu belum ada…..

Waktu menunjukkan jam 17.36 WIB saat kulangkahkan kaki memasuki lobby gedung kantor Revy, sebuah gedung dengan bentuk menyerupai kipas raksasa di atapnya. Saya memang menjemputnya kali ini, karena mobilnya telah expired surat-suratnya dan harus diuruskan ke pihak yang berwenang untuk perpanjangannya. It takes one or two days, katanya. Telah kutelepon dari lahan parkir tadi, mengatakan bahwa saya akan menunggunya di lobby. Yup…, itu dia. Revy telah menunggu di lobby. Setelan celana panjang hitam dengan blazer senada menutupi kausnya yang berwarna biru muda sangat chic dikenakannya.

Kemacetan Jakarta sore hari telah memaksa kami untuk membongkar kotak kue Revy lebih dulu di jalan ketika jam di mobilku menunjukkan pukul 18.02 WIB. Sebuah restaurant Korean Food yang terletak di BBD Tower (kini Bank Mandiri) di kawasan Diponegoro yang menjadi referensinya kali ini. Katanya dari situ kita bisa makan sambil menikmati gemerlapnya lampu Jakarta di bawah sana dari puncak gedung tersebut. Mendengarnya mengingatkanku pada kafe-kafe di bilangan bukit dago pakar Bandung, tempat kita bisa menikmati city view Bandung sepuas mungkin sambil menghirup dinginnya udara pegunungan, sebuah pemandangan yang selalu menjadi fave saya sampai kapan pun. Andaikan Revy sempat pula merasakannya…. Kali ini Revy memang benar. Indah sekali menyaksikan gemerlapnya Jakarta dari atas sini. Lampu-lampu dari gedung maupun penerangan, berwarna-warni menghiasi pemandangan kota di malam hari. Di bawah sana tampak permainan ornamen lampu dari sebuah restaurant steak terkenal berpendar-pendar indah. Bagus memang, tapi tetap ada sisi romantisnya yang hilang. Tidaklah sesakral city view Bandung, di mana kita dibuat menyatu dengan alam, merasakan sapaan lembut angin yang menghembus wajah kita, tanpa batas dinding kaca dan pendingin ruangan seperti sekarang ini.

Namun dengan Revy di hadapanku, apalah yang menjadi kurang bagus? Memandang senyumnya saja seakan mampu memadamkan setiap lampu kota yang ada di bawah sana. Hiperbolik memang, tapi bukankah begitu rasanya fall in love? Hah? Jatuh cinta? mimpi kamu…!! “Lucu yah Ryo, kalau ingat dulu kita sering dikira pacaran”, katanya di tengah obrolan. “Iya.. dan kalau mereka melihat lagi apa yang kita lakukan sekarang, pasti semua kaget menyangka betapa awetnya kita pacaran, hahahaha…”, sahutku.

Dan kami pun tertawa bersama. Seringkali kami berjalan bersama, tidak satu kata cinta pun terucap, pun setelah bilangan tahun telah berlalu. And now what a perfect situation…. Delicious food, good place, romantic sight, beautiful face, fire in the heart, unless…… unless one thing…………, ring in her hand. Huh……

Masih sempat kulirik jam yang menempel di dinding ruang tamu Revy menunjukkan pukul 22.42 WIB saat kami memasuki unit apartemennya. Sebuah unit apartemen kecil yang asri, dengan 2 kamar tidur dan teras dengan pemandangan menghampar menuju Jl. Casablanca, jelas terlihat dari lantai 7 ini. Revy meninggalkanku sendiri di ruang tamu, saat ia meminta ijin untuk sebentar ke kamar kecil. Hhmm.. penataan ruangan yang bergaya minimalis namun dengan paduan warna yang terang dan berani mewarnai desain interor ruang tersebut. Iseng kusibakkan tumpukan CD yang berserakkan di karpet. Chaka Khan, Toto, Whitney Houston dan ah…Syaharani…, sama seperti kasetnya yang selalu kudengarkan di mobil saat pulang-pergi kerja. Perlahan kumainkan dalam stereo set, selembut suara Syaharani melantunkan “Unforgetable” beberapa saat kemudian.

Kuhempaskan tubuhku di atas sofa, saat tak lama kemudian Revy bergabung denganku, membawa dua kaleng coke dingin untuk kembali mengobrol dan bercanda, cekikikan dan tertawa lepas. God damned, I hate those ring……

Malam semakin larut, ketika kuputuskan untuk berpamitan dan pulang. Why does it feel so hard everytime I say goodbye, seems like I won’t never see her again ….? Sepatu kiriku baru saja kukenakan, saat tiba-tiba dari belakangku terdengar suara Revy bertanya, “Ryo, kita sudah lama berteman, and I think I’ve already knew all about you, except one thing”, Revy menahan nafasnya sejenak untuk kemudian melanjutkan, “…and may I know about it now? and please answer the truth”.
“Sure whatever you want to know, just ask me”, tanyaku terheran. Sebenarnya mau nanya apa sih nih anak?
“Ryo, have you ever had some different feelings about me?”, tanyanya tergugup.
“What do you mean with different feelings?”, balasku tak kalah kagetnya.
“Come on Ryo, you know what I mean. Don’t make it harder for me, please….”, kata Revy dengan wajah memelas.
“Why should you know?”, tanyaku lagi untuk menghindar.
“I just have to know, Ryo. Please answer me…”, balasnya sedikit memaksa. Shit….!! What should I do? Tell her everything I’ve been feeling about her? or just lying and tell her everything is right? Perang batin berkecamuk seketika, membuatku ragu untuk memilih apa yang akan kukatakan kepadanya. Waktu merambat perlahan, sampai akhirnya saya menyerah dan memutuskan untuk menceritakan yang sebenarnya. Pikirku toh dia sudah menemukan cinta sejatinya dan sebentar lagi akan menikah. Pengakuanku mungkin hanyalah sebuah intermezzo dalam jejak-jejak hidupnya. Dan lagipula kita sudah sama-sama dewasa, pasti dapat menerima keadaan seberapa buruk pun.

“Have I fallen with you, is that what you wanna know, Rev?”, tanyaku pada akhirnya. Revy hanya terdiam dan tertunduk sembari memainkan ujung blazernya dengan kedua tangannya. “Yes Rev, I have fallen with you. In fact I have been falling in love with you since we’re in school”, jawabku mencoba untuk tegas. “Apakah saya pernah jatuh cinta sama kamu, Rev? Jawabnya pernah, bahkan selalu…. Saya selalu mencintaimu”, lanjutku tidak kuat lagi menahan endapan perasaanku padanya. Sunyi keadaan setelah itu. Menit demi menit berlalu tanpa kutahu apa yang harus kulakukan. Marahkah dia padaku? Jika tidak, mengapa dia terdiam begitu lama? Lalu saya harus bagaimana? Meninggalkannya begitu saja, atau harus tetap tinggal untuk melihat reaksinya? Sekonyong-konyong Revy menubruk tubuhku, memelukku erat sambil menangis. Saya hanya mampu balas memeluknya sambil mengusap-usap rambut sebahunya yang terurai di pundaknya. What’s wrong honey? “Kamu jahhaaattt……!!”, serunya tiba-tiba, masih sambil menangis dan memukuli dadaku dengan kedua tangannya. “Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang? Tahukah kamu Ryo, betapa setianya saya menyimpan cinta untukmu selama ini, sampai akhirnya saya memutuskan untuk memberikannya kepada orang lain?”, serunya lagi sambil sesunggukkan.

Tiba-tiba dunia terasa berputar hebat mana kala saya mendengar pengakuannya. Revy selama ini mencintaiku? Oh My God….. I’ve found someone who understand me best, and I just let it slip away? Sesak rasanya nafasku demi mendengar semuanya. Those ring….those ring takes my happiness away… Menit demi menit berlalu kudengarkan seluruh cerita Revy, mendengarkan bagaimana dia terus mengharapkan perkataan cinta dari bibirku, bahkan sampai saat dia menuntut ilmu ke luar negeri dan kami tidak pernah berkabar berita lagi. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk menerima cinta Heru dan belajar untuk mencintainya, karena cinta Heru adalah kenyataan baginya, sedangkan cinta saya hanyalah sebuah mimpi. Saya tak tahu harus berkata apa. Yang saya lakukan hanya berusaha meredakan tangis dan menyekakan air matanya dengan sapu tanganku. Beberapa saat hingga akhirnya keadaan Revy cukup tenang, dan kami masih terus saja berpelukan…

I think of you every morning, dream of you every night Darling I’ll never be lonely, whenever you’re inside I love you, for sentimental reasons……

Alunan suara Syaharani lembut melantunkan sebuah tembang lawas “For Sentimental Reasons”, makin menghanyutkan kami berdua dalam sebuah dekapan erat yang menyejukkan. Tanpa sadar tubuh kami bergerak perlahan mengikuti alunan lagu. Ya… tanpa sadar kami berdansa, diiringi lembut musik yang keluar dari stereo set di buffet ruang tamu. Dari jendela masih terlihat Jakarta yang terang, seakan sengaja menyisakan kehangatannya untuk kami berdua.

Kami terus tenggelam dalam suatu dansa yang lembut dan romantis, bahkan setelah musik berhenti dimainkan sekalipun. Kami hanya bergoyang lembut, mengikuti kata hati semata. Perlahan kukecup lembut keningnya. Terasa bagaimana ia mempererat dekapannya. Kudongakkan perlahan dagunya, masih sempat terlihat olehku bagaimana Revy memejamkan kedua matanya, sebelum akhirnya kucium bibirnya penuh perasaan…..

Kami berdekapan dan berciuman erat, larut dalam galau emosi dan kerinduan yang sekian lama tak terkatakan, bahkan dalam bilangan tahun sekalipun. Segala macam rasa yang pernah kami rasakan, seakan kami tumpahkan pada sebuah ciuman yang dalam. Lembut kuangkat tubuhnya hingga kini ku menggendongnya setelah beberapa saat kita bercumbu, sambil terus berciuman. Perlahan kuberjalan ke sofa dengan tetap merengkuhnya dalam dekapan.

Tiba-tiba kurasakan ruangan menjadi gelap, tatkala tangan Revy berhasil menjangkau saklar lampu yang terletak di dekat pintu utama. Sunyi senyap gelap, hanya desahan nafas kami berdua yang sedang dihanyutkan cinta.

Jakarta, 2 Desember, 04.12 AM

Angin pagi Jakarta meniup lembut rambutku yang basah tak beraturan di teras apartemen, sementara di belakang sana Revy sedang sibuk mencuci piring. Jujur saja, saat ini saya sedang merasa kacau. Seharusnya saya bangga dapat membuat seorang Revy jatuh cinta dan terlena dalam dekapanku. Namun yang terasa kini semata rasa bersalah menghujam batinku pilu. She is my best friend, and what have I done to her? Slept with her? and what about her marriage few months later? Did I think about it? What was I thinking? and what about Heru? Don’t I just screw up their life by sleeping with Revy? Ryo, you’re such a selfish person…!! Suara hatiku terus menyiksaku dengan pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran dan kepalaku ini.

Revy adalah sahabat saya, dan saya ingin melihatnya hidup bahagia, dan kini saya hanya memberinya trouble yang sangat berat. Saya hanya akan mengacaukan pilihan jalan hidupnya dengan hadir di antara dia dan tunangannya. Dan jika kehadiranku tidak mampu menggoyahkannya, setidaknya saya telah membuat pernikahan mereka tidak akan sesuci seperti yang terlihat. Dan Heru, apa yang akan diperbuatnya jika mengetahui kekasihnya jatuh cinta dan bercinta dengan pria lain? Haruskah saya bersenang-senang di atas segala resiko kehancuran orang lain, bahkan yang notabene adalah orang-orang terdekatku? Saya adalah seorang pria, dan saya tahu persis hancurnya perasaan dan harga diri seorang pria yang kekasihnya berpaling ke cinta yang lain. Haruskah saya membuat kaumku yang lain merasakan perih itu? Perih yang selama ini kadang kurasakan juga saat ingatanku melayang ke masa-masa yang lalu, at the time when I gave my best love for someone, but she felt still not worth enough….

Tiba-tiba tangan Revy melingkar di tubuhku. Dia memelukku dari belakang dengan suatu dekapan erat yang mesra. Terasa lembut wangi basah rambutnya menempel di pundakku. “Ryo…, I have to talk with you”, bisiknya lirih.
“So please, say it..”, balasku sambil membalikkan tubuhku dan menemukan sesosok wajah yang sangat mendamaikan dan menentramkan jiwaku, but do I feel sorrow in her eyes? Kami duduk di teras, menikmati semilir angin pagi Jakarta yang masih belum terkotori debu polusi, ketika Revy memulai ucapannya, “Ryo, I’ve been thinking about us.., dan Revy tidak bisa hidup begini terus”. Saya hanya terdiam sambil menebak-nebak apa yang dimaksud Revy dari perkataan yang diucapkannya, saat Revy meneruskannya kembali, “Ryo, I have life now. Yes…we were messed up, but I still have to go on with my own life”, Revy menarik nafas sejenak, “…and Heru is my life for me now”. Saya hanya bisa memandangi mata Revy yang mulai berkaca-kaca saat kembali ia berkata, “Maybe I don’t love him as much as I love you, but he is real for me, Ryo…… And you seems just like a dream for me”, Revy terdiam sejenak, “…and I can’t live in dreams. Revy butuh hidup yang nyata, Ryo. Revy butuh kepastian….dan saat ini kepastian untuk Revy adalah Heru. Walaupun ia tidak seindah kamu, tapi setidaknya Heru-lah yang memberikan kepastian dan hidup yang nyata buat Revy. Loving you is the greatest feeling I’ve ever had, but…..” “Ssstttt…..say no more honey, I know what you think. I understand you surely….”, sahutku sambil menempelkan telunjukku di bibirnya. “Ryo mengerti apa yang kamu rasakan. Sebagai wanita di usiamu, kamu memang wajar menuntut itu. Dan pria yang terbaik bagimu adalah Heru, karena ia dapat memberikan kepastian untukmu. I know I can only give you dreams,….and dreams seems never be enough for women”, sahutku lagi, “Kembalilah pada Heru, he is where your place belongs to”, kataku sambil kudekap erat Revy penuh sayang.
“Thanks Ryo, kamu baik sekali, but may I ask you anything else”, ujar Revy lirih sambi bersandar di pundakku.
“Sure…anything you want, Rev”, balasku cepat dengan terus membelai rambutnya.
“Will you keep this night as a secret, please…?”, Revy mendongak, menatapku dengan pandangan penuh harap.
“Surely I will, Rev. Surely….”, kataku meyakinkannya. “Kamu sahabat saya Rev, dan saya tidak mau ada sesuatu pun yang mengacaukan kebahagiaan hidup kamu, apalagi oleh hal-hal yang disebabkan oleh saya”, lanjutku lagi, “I’ll do anything to make you happy Rev, you can depend on me, as always…”.

Jalanan kota Jakarta masih lengang, ketika kubelokkan mini jeepku di dareah TPU Karet menuju kawasan Pejompongan. Pelan kutekan tombol on radioku yang langsung ter-set pada sebuah radio swasta yang khusus memutarkan lagu-lagu Indonesia di bilangan frekuensi 89-an FM.

…………..
Selamat tidur kekasih gelapku, s’moga cepat kau lupakan aku Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk melupakanmu Selamat tidur kasih tak terungkap, s’moga kau lupakan aku cepat Kekasih sejatimu tak kan pernah sanggup untuk meninggalkanmu
…………..

Suara Sheila on 7 dengan Sephia-nya cukup menerbangkan lamunanku kembali pada Revy. Masih terbayang bening matanya, saat terakhir kumemandangnya di pintu apartemennya. Ingin rasanya memeluk dan menciumnya, mengungkapkan semua isi hati ini yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Semua kata cinta di dunia tidak akan pernah cukup menggambarkan bagaimana inginnya diriku memilikinya. Namun semua itu tidak saya lakukan. Biar bagaimana pun saya telah berjanji untuk tidak lagi mengacaukan kehidupan Revy. Kata cinta hanya akan membuat segalanya menjadi bertambah berat dan rumit bagi kita. Better not to say it…!!

Revy butuh kepastian…, mengapa hanya kata-katanya itu yang terngiang selalu di telingaku kini. Terbayang sekelebatan kisah-kisahku dengan beberapa wanita yang sempat hadir di jejak-jejak hidupku. Jika hingga kini saya belum menemukan yang saya cari dari seorang wanita, yaitu kedamaian, mungkin karena selama ini pula saya belum mampu memberikan apa yang mereka cari, yaitu kepastian. Diriku masih merenung saat kulewati perempatan Slipi-Palmerah yang mulai ramai dipenuhi aktivitas manusia, untuk kemudian meluncur menuju kawasan Tomang. Ah…kepastian…….. Something women always want, something I could never give……, not yet……

THE END

Catatan Alengka:

cerpen ini dikutip dari situs duniaxxx.com, karena itu script aslinya mengandung konten pronografi. kami telah menghapus sebagian cerita yang mengandung konten pornografi tersebut sebelum di posting. bagi yang merasa penulis cerpen ini, silahkan klaim agar kami dapat menampilkan nama penulisnya. terima kasih.