Gajah Pygmi dari Jawa

Gajah pygmy Kalimantan diduga kuat adalah gajah Jawa yang selamat dari kepunahan beberapa abad WILL Lembaga lingkungan World Wide Fund for Nature (WWF) mendugagajah kerdil misterius ini dibawa ke Kalimantan olen keluar­ga kerajaan kemudian dibuang ke hutan.

Para peneliti itu yakin gajah pygmy jauh lebih kecil dan lebih jinak dibanding sepupunya yang ditemukan di Asia. “Gajah Kali­mantan yang menjelajah hutan ini ada kemungkinan adalah si­sa terakhir subspesies yang telah punah di daerah asalnya, Pulau Jawa berabad-abad yang lalu,” kata Shim Phyau Soon, bekas ahli rimba Malaysia, kemarln. “Gajah dikirim dengan ka­pal dari berbagai tempat di Asia ratusan tahun lampau, biasa­nya sebagai hadiah di antara para penguasa.

Gagasan tentang asal-usul gajah kerdil yang diungkapkan Shim inl menjadi inspirasi bagi WWF untuk melaksanakan riset sudah lama penasaran soal sumber gajah pygmi ini serta bagaimana mereka cuma ditemukan dl wilayah tertentu di Pulau Kalimantan yang luas. Diperkirakan populasi gajah itu di alam hanya 1.000 ekor, kebanyakan dite­mukan di negara bagian Sabah, Malaysia.

WWF mengatakan studi mereka tidak menemukan bukti ar­keologis bahwa gajah sudah hidup dalam jangka waktu lama di pulau Itu. Bukti ini menguatkan teori bahwa mereka diba­wa ke sana oleh seorang sultan di Sulu, yang kini menjadi bagian dari Filipina. Cuma seekor betina dan jantan yang produkif, tapi jika dibiarkan tak terganggu di habitat yang lu­mayan bagus, secara teori mereka bisa berkembang menjadi sebuah populasi besar yang mencapai 2.000 gajah dalam waktu kurang dari 300 tahun,” kata Junaidi Payne, peneliti WWF yang terllbat dalam riset ini. “Mungkin itulah yang terja­di di sini”

Gajah kerdil ini baru diidentifikasi sebagai subspesies baru pada 2003 setelah tes DNA menunjukkan perbedaan secara genetik. Secara keseluruhan, gajah pygmyterlihat lebih bulat. Tinggi gajah jantannya cuma 2,5 meter, lebih pendek dibanding gajah daratan Asia yang tingginya sekitar 3 meter. Mukanya le­bih kecil can iebih persegi, ekornya lebih panjang-hampir mencapai tanah-serta gadingnya lebih lurus.

Perbedaan utama lainnya adalah temperamenr,ya yang baik, . lebih tenang dibanding gajah Asia, yang memang dikenal lebih kooperatif dan bisa bekerja sama dibanding subspesies gajah Afrika.

WWF mengatakan pelacakan dengan satelit memperlihatkan bahwa mamalia besar itu menyukai habitat dataran rendah yang kini banyak diubah menjadi perkebunan karet dan kelapa sawit. “Jika mereka benar-benar datang dari Jawa, kisah yang menakjubkan ini menunjukkan betapa bernilainya upaya untuk menyelamatkan populasi sekecil apa pun dari spesies tertentu yang kerap dianggap sudah punah,” kata Christy Williams, ko­ordinator program gajah Asia can badak WWF.

Kemungkinan besar ini mendorong semangat para ilmuwan untuk mengusulkan upaya perlindungan terhadap populasi ke­cil badak Sumatera dan Jawa yang masih tersisa. “Kami akan melakukan translokasi beberapa ekor ke habitat yang lebih baik untuk meningkatkan jumlah mereka”, kata Williams. “Program itu terbukti berhasil pada badak putih Afrika Selatan serta badak India, dan kini kita mungkin melihat hal yang sama terjadi pula pada gajah Jawa”.

Tempo

Tikus Sebesar Banteng

Fosil tengkorak besar dari jenis hewan penge­rat yang ditemukan tiga tahun lalu di Pantai Rio de La Plata, Uruguay Selatan, sudah rampung diidentifikasi. Institute of Physics of Montevideo mengumumkan bahwa fosil itu, empat juta tahun lalu, berwujud tikus raksasa sebesar banteng, sebe­rat 1 ton.

“Namanya Josephoartigasia monesi, sebuah spesies baru. Sepasang gigi serinya sangat besar, jauh lebih besar daripada yang dimiliki hewan jenis pengerat lainnya,” ujar Rudemar Er­nesto Blanco, peneliti dari Institute of Physics.

Blanco dan kawan-kawannya membandingkan fosil tersebut dengan jenis rodensia yang hidup saat ini di Amerika Sela­tan. Kebanyakanturunannya

saat ini memiliki bobot ku­rang dari 1 kilogram. Tapi ada dua pengecualian, yakni capybara (Hydrochoerus hydrochaeris) dan kera­bat terdekat Josephoarti­gasia, pakarana (Dinomys branickii) yang beratnya mencapai 60 kilogram.

Selama tiga tahun fosil temuan paleontolog amatir tersebut disimpan dan diteliti di Museum of Natural History, Montevi­deo. Para peneliti menduga mamalia itu menggunakan gigi se­rinya yang besar untuk memotong-motong kayu, seperti yang dilakukan berang-berang modern. Kemungkinan lain, mereka menggunakannya untuk berkelahi.

“Jika Anda adalah hewan pengerat itu dan hidup berdam­pingan dengan burung-burung karnivora penebar teror serta bangsa kucing hutan dengan kuku laksana pedang, Anda pasti akan mencari cara untuk bisa tetap hidup,” ujar Blanco. Tubuh­nya yang sangat besar itu mungkin untuk melindungi diri.

BBC

Singa Marsupial Raja Hutan Lampau

Singa marsupial (Thylacoleo carnifex) Australia yang hidup di akhir zaman Pliocene sampai zaman Pleistocene (1,6 juta-40 ribu tahun yang lalu) bisa jadi predator darat pa­ling efektif. Dalam sekejap, singa ini mampu memburluh lawan yang jauh lebih besar.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan jurnal zoologi meng­ungkap bahwa Thylaco(eo membunuh mangsanya mengguna­kan gigi depannya yang laksana gunting raksasa: Daging dan tulang mudah dicabiknya yang mengakibatkan trauma (luka) hebat dan hilangnya banyak darah.

Sebagai perbandingan, singa Afrika, jenis kucing paling be­sar dan ditakuti saat ini, menggunakan gigitan mereka untuk mencekik mangsanya hingga mati lemas. Teknik ini dianggap memerlukan waktu’15 menit bagi mangsa untuk tewas, de­ngan peluang membebaskan diri bagi mangsa seperti banteng atau bison yang masih cukup besar.

“Hasil pe­nelitian ka­mi menun­jukkan si­nga marsu­pial memba­ngun teknik membunuh yang berbe­da diban­ding bangsa kucing pre­dator seka­rang,” kata Stephen Wroe, doktor biomekanis dari Universitas New South Wales, Australia. Menurut dia, gigi singa berkan­tong itu bukan sekadar alat memangsa, tapi juga komponen aktif dalam proses membunuh lawan.

Menggunakan metode model komputer tiga dimensi, Wroe meneliti arsitektur kerangka tengkorak marsupial serta mem­pelajari kemungkinan mekanis dan kerja otot rahangnya. Hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa tengkorak, rahang, kepa­la, dan leher singa memiliki struktur yang sempurna untuk melakukan pembunuhan cepat dan efektif, bukan “cekikan le­mas” seperti yang umumnya dilakukan predator kucing besar lainnya.

Walaupun tubuhnya hanya sebesar singa betina Afrika (tinggi 75 sentimeter, panjang 150 cm, dan berat sekitar 130 kilo­gram), singa marsupial bisa dengan mudah merobohkan singa jantan Afrika dan hewan lain yang jauh lebih besar, termasuk kanguru raksasa di masanya. Kelincahan tubuh serta kekuatan gigitan mereka akan dengan efektif dan cepat membunuh me­reka semua. “Jika belum punah, mereka adalah predator darat yang berada di urutan paling atas sebagai ‘raja hutan’,” kata Wroe

Tempo