Mati Sunyi

Oleh: Cok Sawitri

KORAN-koran menulis tentang kematian bibiku. Banyak tokoh berkomentar bahwa bangsa ini telah ke­hilangan salah satu anaknya yang terbaik. Seorang pejuang kemanusiaan telah pergi!. Bangsa ini berduka. Televisi pun tak kalah haru birunya, mulai berlomba menayangkan kisah sang anak bangsa. Bahkan pe­merintah mengumumkan pengibaran bendera setengah tiang. Penghormatan diberikan karena anak bangsa ini telah mengharumkan nama bangsa. Tercatat, di masa bangsa disorot sebagai bangsa yang kurang menghargai hak asasi manusia, telah tampil seorang perempuan yang setiap kata dan tindakannya menggetarkan hati. Membuat bangsa ini sanggup tegak menghadapi hujan kritik atas berbagai persoalan kemanusiaan.

ANDAI saja politik sempit tidak ikut bermain, seharus­nya dialah yang pantas tahun lalu mendapatkan Nobel Perdamai­an! ” begitu salah satu komentar koran lokal dengan sebuah be­rita yang nyaris emosional me­ngutip komentar seorang tokoh nasional.

Sebagai keponakan, tiba-tiba aku dianggap sebagai salah satu narasumber yang pas untuk memberi komentar mengenai Bibiku-mungkin karena aku juga aktif di beberapa kegiatan sosial. Apalagi akibat koran lo­kal yang tahu aku ada hubung­an keluarga dengan Bibiku, na­maku sontak populer dan aki­batnya aku pun sibuk menja­wab pertanyaan wartawan na­sional dan internasional. Sibuk memberi penjelasan mengenai banyak hal, termasuk rencana upacara kematian, upacara ngaben.

Tetapi alangkah sulitnya menjawab pertanyaan-perta­nyaan para wartawan dengan jujur. Apa yang mesti kukomen­tari? Semua kisah hidup Bibi telah diketahui umum. Semua sepak terjang Bibi selalu men­jadi headline. Padahal, mereka kini ingin mencari yang lain, yang unik, yang bisa didapat dari kisah hidup Bibiku. Bila perlu yang eksotik dan bernilai berita, yang tersembunyi dalam hidup Bibiku. Ah, hidup Bibiku berjalan normal. Perkawinan­nya bagus. Anak-anaknya pun tak ada yang aneh-aneh. Semua normal dan lancar. Bibi seorang ibu, seorang istri. Manusia yang normal-normal saja. Apalagi yang mesti ditulis?

Yah, akhirnya mereka men­jadikan upacara ngaben itu se­bagai angle penulisan. Luma­,yanlah untuk nilai keunikan. Bukankah Bibi yang selama ini dikenal sangat modern, inde­penden, dan berjarak dengan adat bahkan sering mengkritik adat, ternyata di saat kema­tiannya akan mengikuti ritus adat.

Bagi para pengejar berita, pa­ra pengagum Bibi, rencana upa­cara itu dijadikan sebagai ung­kapan kekaguman, betapa Bibi, biarpun sudah mendunia, ternyata tetap setia pada tradisi. Waduh! Pejuang kemanusiaan itu memang memiliki akar yang kuat. Akar tradisi dan kearifan lokal. Sebagai bukti, betapa teguh kepribadiannya mengha­dapiberbagaiperubahan seka­ligus berada dalam perubahan itu… terbukti biarpun berperi­laku global… upacara ngaben akan dilaksanakan… dst! dst!

Aku merunduk menahan sa­kit kepala. Haruskah aku bilang, bagi desa ini, desa di mana Bibi di­lahirkan dan dibesarkan hingga remaja, Bibiku bukanlah siapa­siapa. Sekalipun di masa hi­dupnya Bibi dan almarhum suaminya pernah menjadi pejabat di kabupaten. Dan jika dirunut dari keturunan, Bibi dan su­aminya adalah keturunan bang­sawan. Biarpun setiap hari Bibi jadi berita, setiap minggu men­dapat penghargaan.., tetap saja bagi masyarakat desa ini Bibi bukan warga istimewa.

Bibi dan suaminya telah lama meninggalkan desa ini, menge­jar kemajuan. Ketika suaminya meninggal, Bibi kemudian aktif di kegiatan kemanusiaan. Di era reformasi nama Bibi meroket ketika menggerakkan aksi-aksi perdamaiannya. Namanya ber­kibar bukan saja di tingkat na­sional. Di kalangan internasi­onal pun Bibi dihormati. Se­ruannya didengarkan oleh para pemimpin dunia, juga para pe­mimpin spiritual.

Sebaliknya sejak lama, bagi desa ini, Bibi tidak lagi bagian masyarakat. Bibi dan paman sudah lama tidak aktif di ban­jar. Begitu pun anak-anaknya. Tidak pernah lagi rnengikuti berbagai kegiatan upacara dan sosial masyarakat desa. Kalau­pun sesekali datang, mereka da­tang untuk berlibur. Mengurus rumah dan tanah warisan. Atau pulang seperti sekarang, di saat mati.

Ya, di jalan-jalan desa me­mang berkibar bendera sete­ngah tiang. Tetapi hampir tiga hari ini; sejak jasad Bibi di­semayamkan di rumah warisan; hanya beberapa warga desa saja yang datang melayat. Mereka yang melayat itu, aku tahu, bu­kan karena hormat pada Bibi, tetapi karena mengingat hu­bungan dengan keluarga yang lain. Mereka mengingat pertemuan dengan ayahku, dengan para paman juga bibi-bibi yang lain. Sedangkan warga yang lain memilih pura-pura tidak tahu-me­nahu.

Begitu pun dalam keluarga besar, hampir semua memang datang melayat, tetapi semua bersikap sebagai tamu, tak ada yang berlama-lama, semua se­akan memberi isyarat. Dulu, bukankah begini caranya Bi­bimu memperlakukan kami jika kami menghadapi kematian?

Aku mengerti sikap mereka. Keluarga lain pun sama-sama memahami. Pembicaraan me­ngenai sikap Bibi semasa hidup terhadap masyarakat dan ke­luarga memang sudah lama menjadi pergunjingan. Dan su­dah barang tentu, para sepu­puku, anak-anak bibiku, tidak menyadari bahwa diam-diam masyarakat clan keluarga tengah menghukum Bibi dan keluarga.

Protes khas atas sikap Bibi dan anak-anaknya yang me­mang jarang pulang ke desa, jarang punya waktu untuk aca­ra-acara keluarga, tengah ber­gulir, diembuskan dalam udara desa yang tenang. Begitu tenangnya, setenang perdamai­an yang diperjuangkan oleh Bi­biku.

Sudah diduga sejak lama akan datang balasan semacam ini dari warga desa terhadap Bibi dan anak-anaknya. Balas­annya yang begitu halus, jauh dari komentar. Tanpa umpatan atau sesal mengenai sikap Bibi selama hidup. Mereka tahu, ja­lan diam adalah yang terbaik menghadapi orang yang sudali mati.

Yah, sejak lama aku pun mengalami kegamangan. Setiap kali bermain ke Jakarta atau bertemu dengan beberapa to­koh di negeri ini, lalu mereka bertanya dan menempatkan Bi­bi seolah-olah orang yang amat berpengaruh di daerah asalnya, aku selalu tersedak dan hanya bisa tersenyum miring.

Oh-ho! Bibi memang berjalan di atas ide dan gagasannya sen­diri. Pantas dikagumi. Wajar se­mua kagum atas sepak terjang­nya, apalagi kemajuan media massa, terutama koran-koran bila menuliskan sikap keber­pihakan Bibi terhadap kema­nusiaan. Membuat Bibi di ma­na-mana ditunggu kehadiran­nya. Dipanutkan dan didengar­kan kata-katanya. Komentar Bibi berpengaruh, selalu diku­tip. Bibi memang hebat. Kon­sisten dan tidak diragukan ke­jujurannya!

Tetapi, haruskah aku bilang kepada para pengagumnya bah­wa apa pun yang dilakukan Bibi tidak terkait dengan masyara­kat tempat asal-muasalnya. Se­mua aktivitasnya jauh dari desa ini. Ide dan gagasan Bibi adalah untuk manusia dunia. Bukan manusia di desa. Sekalipun desa kelahiran Bibi tak kalah banyak memiliki persoalan kemanu­siaan; dari kemiskinan sampai kriminal. Dari politik sampai kerusuhan. Sama seperti desa­desa lain. Sama seperti perso­alan-persoalan umum yang di­hadapi masyarakat di zaman ini. Sama seperti yang menjadi bahan perjuangan Bibiku.

Namun bibiku tidak pernah melibatkan diri untuk mencari solusi dari persoalan di desanya sendiri. Yang diperjuangkan Bi­bi adalah kemanusiaan nasio­nal, internasional… seperti ko­mentar seorang tokoh, “Dia me­mang perempuan yang menda­hului zamannya!”

Dan sungguh selalu membu­atku tersenyum miring, setiap kali ingat betapa banyak aktivis yang terkenal itu terkagum-ka­gum pada Bibi dan mengira Bibi tentulah memiliki pengikut yang fanatik dan solid. Astaga, haruskah aku bilang, Bibi ti­daklah seperti tokoh informal yang lazimnya dikenal di pe­desaan. Yang dicintai buta oleh masyarakatnya. Bibi bukan si­ap-siapa di desa kelahirannya. Bahkan andai dicoba Bibi dili­batkan mengatasi suatu perso­alan di desa kelahirannya, tidak usah dipartaruhkan, apa pun saran Bibitidak akan didengar oleh masyarakat desa kelahir­annya. Ironis memang, Bibi pa­ling akan dikutip koran-koran. Seolah komentarnya akan mengubah sikap seisi desa, tetapi itu hanya berita di koran. Masyarakat desa punya tokoh sendiri. Tokoh yang hadir setiap saat dalam suka dan duka, da­lam bahasa mereka sendiri. Dan panutannya sendiri.

“lbumu memang terkenal,

tapi apa gunanya keterkenal­annya saat ini?! Kamu pikir se­mua orang akan datang mem­bantu mengurus upacara kema­tian ibumu?! Hanya karena dia orang terkenal?!”

Aku tercekat.

Paman Bungsuku mulai me­raung dan melotot kepada anak bibiku yang paling sulung. Se­bagai salah satu pengurus Desa Adat, Paman Bungsuku tentu tahu apa yang telah digunjing­kan masyarakat terhadap ren­cana ngaben Bibiku.

“Dari dulu telah aku saran­kan, jika ibumu meninggal, kre­masi saja di Jawa! Jangan ber­mimpi membuat upacara ke­matian yang besar. Biarpun ka­mu punya duit, bisa membeli apa saja, tetapi apa gunanya?! Semua orang di desa ini enggan melayat. Enggan menolong ka­lian. Karena a.pa? Karena kalian tidak pernah menganggap me­reka ada dan hidup! Tanya pada dirimu, apa pernah kamu ikut terlibat meneteskan keringat ji­ka mereka bikin upacara?! Se­karang kamu menuntut hak se­bagai warga desa. Kewajiban­mu sendiri apa pernah kamu penuhi?! Apa begini yang na­manya keadilan yang diperju­angkan ibumu itu? Sekarang

menuntut perlakuan yang sama. Tetapi apa pernah ibumu mem­perlakukan mereka dengan adil?! Ibumu hanya bisa meng­kritik adat! Hanya bisa meng­usulkan perubahan. Menyaran­kan persamaan sikap. Sekarang mereka telah mematuhi ajaran ibumu. Menjalankan persama­an sikap terhadap sikap ibumu kepada mereka!”

“Jadi, jangan muluk-muluk! Ibumu hanya besar dalam be­rita. Tetapi dia sudah kehilang­an akar. Kehilangan ikatan de­ngan manusia yang dia perju­angkan! Terutama dengan ma­nusia desa ini!”

Aku menyingkir jauh.

Para sepupuku tentu sulit mengerti. Mereka sejak kecil ja­uh dari desa ini. Bahkan jauh dari negeri ini. Yang mereka tahu, ibu mereka seorang ter­kenal, humanis yang dihormati oleh banyak orang. Seorang ibu yang selalu penuh perhatian ke­pada banyak orang. Ibu yang penuh kasih dan perhatian ter­hadap berbagai peristiwa ke­tidakadilan!

Logikanya, tentulah masya­rakat desa bangga pada ibunya. Tentulah desa ini akan berka­bung berhari-hari; bersedih atas kematian salah satu war­

ganya yang ditempatkan gai tokoh kemanusiaan c Sewajarnya, masyarakat bergerak, tanpa diminta 1 membahu menyukseskan cara ngaben untuk ken ibu mereka. Apalagi, buk, dalam buku-buku kisah dc dituturkan mengenai ku tradisi gotong royong, kas yang, dan harga-menghar,

Teriakan-teriakan antai man Bungsuku dan para se itu perlahan lenyap. L oleh rumah besar yang sunyi sepi.

Pelayat-pelayat yang d dari jauh, yang mengena dari koran dan ruang-: diskusi, yang kagum kare dan gagasan Bibi, setial datangtak dapat menaha tersentakannya. Tak saz menyembunyikan keherar mata mereka: kenapa sep rumah besar ini?! Bukanka ri yang mereka dengar dan jika ada kematian, warga akan datang berduyun-c melakukan kerja bakti. Al akan ada rencana upacars ben besar seorang tokoh begitu berpengaruh. Buka biasanya bila salah satu ~ saja yang mati, semua ` bila perlu berhari-hari r

map di rumah duka sebagai tanda solidaritas dan penghor­matan? Tetapi inilah kenyata­annya. Yang melayat Bibi ha­nyalah mereka yang dari jauh, yang dekat seolah tidak tahu bahwa ada jasad di dalam rumah.

Oh, kembali perdebatan itu ,terdengar.

Kenapa tidak dikremasi di Jawa saja? Atau di Denpasar? Sekarang toh bisa ngaben cepat tanpa harus menggunakan upa­cara lengkap?! Kenapa anak­anak bibi merasa perlu mem­beri hadiah terakhir sebuah upacara pengabenan lengkap? Astaga! Mereka tentu tidak bisa dilarang membawa jasad bibi pulang. Tentu tidak bisa dila­rang untuk merancang mem­buat rencana upacara besar. Mereka ingin menghormati ibu mereka. Juga mereka punya uang. Tetapi tahukah mereka, ngaben tidak cuma perlu uang tetapi perlu dukungan masya­rakat? Dan tahukah mereka; Bi­bi tidak pernah sekalipun me­lakukan kerja bakti untuk ke­giatan apa pun di desa ini? Me­nyumbang pun tidak. Bibi entah kenapa, kepada keluarga dan masyarakatnya sendiri begitu pelit dan kritis, bahkan cen­derung sinis. Entah kenapa… .

Apa mereka kira ini semacam resepsi perkawinan? Yang bisa segalanya total dibeli? Atau di­langsungkan di hotel?

Aku merasakan kengerian berindap-indap di tiap wajah keluarga malam itu ketika du­duk bersama untuk merapatkan rencana upacara ngaben bibi­ku.

Anak-anak bibikutetap ngo­tot dengan rencana mereka. Yang menakjubkan lagi, upa­cara ngaben Bibi akan dihadiri pula ban,yak wartawan dan pe­jabat.

” amu pi ir meng ta­mu itu mudah? Siapa yang akan mengurus? Apa kamu pikir de­ngan bade bertingkat tidak per­lu manusia untuk mengusung­nya ke kuburan? Kamu pikir akan mudah menyuruh orang-orang mengusung bade ibumu?!” Semua mulai histeris, membayangkan upacara yang kacau.

“Tenanglah! Saya sudah membuat kepanitiaan. Saya ta­hu, tidak mungkin mendapat bantuan masyarakat desa ini. Karena itu, untuk akomodasi, perjamuan para tamu kita sewa katering. Untuk mengusung ba­de ke kuburan, kita sewa buruh­buruh bangunan. Kemudian transportasi sudah ada, travel yang akan mengurus,” anak Bi­bi yang tertua, yang kini men­jadi pengusaha kaya, menyam­paikan rencananya.

“Hanya satu yang kami mo­hon, sudilah semua keluarga hadir. Agar di mata teman-te­man Ibu, kita tetap tampak kompak. Ibu dan kami memang bersalah… janganlah ibu dihu­kum seperti ini.”

Aku merunduk. Isak tangis pun mulai pecah. Entah kenapa, walau semua pekerjaan dan perlengkapan yang diperlukan untuk ngaben telah dipesan, te­lah disewa, tetap saja ada ke­sunyian yang mencekam di rumah besar ini. Seperti ada yang patah; lalu jatuh di tengah tanah yang sunyi. Desaunya membuat hati dilanda perasaan sendiri. Begitu sendiri:

Segalanya telah dirancang ra­pi. Akhirnya, seluruh keluarga mau terlibat sebagai panitia. Bukan karena Bibi, tetapi lebih karena menjaga nama keluar­ga!

Dan hari-H pun tiba. Ratusan mobil berderet di jalan. Para pelayat yang datang dari jauh,

dari berbagai kota dan berbagai negara, berdatangan sejak pagi. Suara gamelan, penyambut ta­mu dan perjamuan, berlang­sung lancar. Rapi. Bahkan ter­lalu rapi. Semua tertata nyaris sempmna.

Kemudian prosesi upacara ngaben pun dimulai. Juga lan­car dipandu oleh penata acara yang piawai. Para pengusung bade dengan seragam yang ma­sih bau toko mulai bergerak mengusung jasad Bibi menuju kuburan, bersorak dengan se­mangat. Menjadi sasaran ka­mera dan kekaguman.

Jalanan desa begitu ramai: Semua penduduk desa keluar rumah, tetapi cuma duduk-du­duk di depan rumah masing­masing, hanya sebagai penon­ton prosesi ngaben bibiku. Yah. Hanya menonton. Seolah pro­sesi ini bukan bagian dari desa ini. Semua hanya menonton! Dengan sorot mata yang sulit diterjemahkan. Jauh berbeda dengan para pelayat, teman, dan pengagum Bibi saat larut dalam prosesi dilanda keharuan hebat karena merasakan betapa agung dan meriahnya upacara ngaben bibiku. Seakan kembali mendengar seruan Bibiku, ma­rilah hidup dalam kebersama­an. Marilah hidup dalam ke­ragaman! Karena sejatinya kita adalah manusia, yang sama!

Lalu setibanya di kuburan, sebelum jasad dibakar dengan kompor sewaan, seorang men­teri berpidato dan beberapa to­koh politik yang katanya ber­peluang jadi presiden membe­rikan sambutan kenangan. Ki­lat blitz serta sorot kamera tak henti-henti. Karangan bunga duka cita bertumpuk-tumpuk menutupi tempat pembakaran. Semuanya lancar, rapi dan tepat waktu seperti sikap Bibiku yang selalu disiplin dan tepat waktu.

Tepat menjeIang tengah-H-a-n, jasad bibi pun mulai dibakar. Api meliuk ke langit. Langit cerah. Ditingkahi suara gamel­an. Keheningan sesaat memak­sa air mata menetes. Kematian selalu membuat rasa kehilang­an. Dan saat itu para pelayat, para tokoh, wartawan, dan orang-orang yang mengagumi Bibi mulai berpamitan. Satu per satu menyalami anak-anak Bibi dengan keharuan.

Seorang anak bangsa telah pergi. Pejuang kemanusiaan itu telah pergi. Sayup-sayup aku mendengar suara penyiar yang menyampaikan pandangan ma­ta secara langsung dari kubur­an. Dan ketika api padam, aku terbebas dari lamunan, dari ke­haruan. Lalu menoleh kiri dan kanan. Menghitung jumlah orang yang masih ada di ku­buran. Yah, tinggal keluarga dan orang-orang sewaan saja yang tengah sibuk menghitung­hitung jam kerja dan upah yang akan mereka terima.

Aku mencari ayahku dengan mata tergetar. Aku juga mencari wajah para sepupuku. Aku mencari wajah semua keluarga. Bau asap jasad menghentikan pikiranku. Menghentikan hati­ku. Aku merasa tiba-tiba.begitu sendiri. Sendiri dan jauh dari dunia. Jauh dari teman-teman, jauh dari semuanya. Jauh sekali. Oh, seperti hidup di dunia yang lain. Begitu lain.

Dan bibi pun kini berada di dunia lain. Sendiri. Tetap tak perlu siapa-siapa selain dirinya. Sama seperti saat hidupnya.

(Bali, awal Mei tahun 2003) Keterangan

ngaben: upacara kematian secara tra­disi Hindu Bali

bade: alat pengusung mayat yang bia­sanya dibuat bertingkat

banjar: organisasi sosial kemasyara­katan tradisional di Bali

Iklan

Selamat Datang!

Alengka team mengucapkan Selamat Datang di Alengka. Sesuai dengan motto kami, kami ingin berbagi apapun yang bisa kami bagi meski dengan sedikit ilmu. Semua masukan akan sangat berharga bagi kami. Terima Kasih

Alengka Team