Bagaimana Kulit Tikus Mendeteksi Oksigen

Katak memang bisa menye­rap oksigen lewat kulitnya. Na­mun, siapa sangka kulit tikus juga mampu mendeteksi kadar oksigen di sekelilingnya. Berda­sarkan informasi itu, kulit me­minta otak mengatur produksi erythropoietin atau EPO, hor­mon yang menstimulasi tubuh untuk memproduksi sel darah merah, dan membuat tubuh mampu beradaptasi dengan lingkungan berkadar oksigen rendah, seperti di ketinggian.

Temuan tim ilmuwan biologi dari Universitas California, Amerika Serikat, ini amat me­ngejutkan. Selama ini pengeta­huan umum tentang kulit ma­malia menyebut kulit sekadar pembungkus tubuh dan tidak memiliki koneksi kuat dengan sistem pernapasan tubuh. “Ini sesuatu yang tidak biasa,” ka­ta Randal! Johnson, ketua tim peneliti. “Kami menemukan, kulit mamalia, setidaknya ca­lam contoh tikus, merespons kadar oksigen yang tersedia di udara dan lantas mengubah aliran darah lewat kulit.”

Hal ini berujung pada res­pons paling dasar tubuh terha­dap kadar oksigen rendah, yai­tu perubahan produksi erythro­poietin. Respons ini, kata para peneliti, bisa jadi sudah lama ada mengingat mamalia ber­evolusi dari hewan vertebrata strata rendah, seperti amfibi, yang memiliki semacam sa!ur­an ion untuk menaikkan penye­baran oksigen di kulit, seperti yang dimiliki mamalia lewat pa­ru-paru mereka.

“Hewan amfibi-terutama ka­tak-bernapas lewat kulit mere­ka dan dapat mendeteksi serta merespons level oksigen di udara dan air di sekitar mere­ka,” ujar Johnson. “Tapi tidak pernah ada yang menduga ke­mampuan serupa juga dimiliki oleh mamalia.”

Menurut profesor biologi dari Universitas California itu, dari sudut pandang evolusi, hasil studi ini sebenarnya masuk akal mengingat peranan penting pemasukan oksigen lewat kulit bagi hewan amfibi. “Sangat me­narik melihat bagaimana meka­nisme ini bekerja bagi adaptasi manusia dan hewan dalam ling­kungan sulit oksigen,” ujarnya.

Tim peneliti tidak menemu­kan bukti bahwa tikus dapat bernapas degan kulit mereka. Tapi jika kemampuan deteksi kadar rendah oksigen can me­micu produksi EPO juga ditemu­kan pada manusia, hal ini akan berimplikasi dramatis terhadap upaya pengobatan anemia can penyakit lainnya; yang memerlu­kan peningkatan kemampuan tubuh untuk memproduksi sel darah merah. Hal ini dapat pula meningkatkan perporma atlet ketika berkompetisi di Olimpiade musim panas atau musim dingin.

Geber Produksi Pakai Kedelai Plus

LIPI menawarkan kembali kedelai­nya yang sudah direkayasa se­hingga berproduk­si tinggi. Tergan­tung kemauan pemerintah.

Jarang-jarang Direktur Pu­sat Penelitian Bioteknologi Lembaga Emu Pengetahuan Indonesia Bambang Prasetya dan Deputi Kepala UPI Bi­dang Ilmu Pengetahuan Hayati Endang Sukara tercenung bareng di depan tele­visi. Hail itu di ruang rapat Pusat Pe­nelitian Bioteknologi LIPI, keduanya baru saja mencermati berita kelangka­an kedelai yang menyusahkan hampir seluruh lapisan di masyarakat.

Bambang dan Endang lalu berpan­dangan dan saling melempar senyum miris. “Andai saja basil penelitian para peneliti kami tentang kedelai dimanfa­atkan pemerintah sejak dulu, kisruh soal kedelai selama sepekan terakhir ini tak perlu terjadi,” kata Bambang mengungkapkan isi benaknya saat itu.

Yang dimaksud Bambang adalah pe­nelitian tentang teknik tanaman kede­lai yang memiliki produktivitas tinggi dan dikenal sebagai “kedelai plus”. “Kedelai itu dibekali mikroba yang berpotensi melakukan penambatan nitrogen secara hayati,” kata Harmas­tini Sukiman, ahli milroba LIPI.

Harmastini mengatakan mikroba berasal dari bakteri rhizobium yang biasa hidup dalam tanah. Bakteri itu­lah yang biasa berperan membantu ta­naman mengikat nitrogen dari udara. Ada 80 persen unsur nitrogen di udara yang tak dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tanaman tanpa bersim­biosis dengan rhizobium.

“Nah, dengan menginsersi rhizobium ke dalam biji kedelai, tanaman bisa melakukan penyerapan nitrogen lebih baik dan mengubahnya menjadi unsur yang bisa meningkatkan produksi ta­naman,” dia menjelaskan.

Karena sudah disisipi bakteri, biji kedelai plus tidak memerlukan pemu­pukan secara optimal. Kebutuhan pu­puk kimia, semacam urea, pun dapat dikurangi hingga 60 persen. Bahkan, di lahan yang baik, kedelai plus bisa be­bas sama sekali dari kebutuhan pupuk kimia. Penggantinya, pupuk organik dosis rendah (2 kilogram per hektare). “Karena itu, kedelai yang dihasilkan adalah kedelai organik,” kata Harmas­tini.

Untuk tanah yang asam ataupun kondisi marginal lainnya, jenis bakteri yang sama tetap mampu tumbuh dan bersimbiosis dengan baik. Malah, pas­capenanaman tanah menjadi lebih su­bur karena kandungan nitrogen dalam tanah meningkat 20 persen.

Dengan begitu, Haimastini menvata­kan, petani bisa menjadikan kedelai se­bagai tanaman alternatif ketika padi tidak bisa ditanam. “Saat musim ta­nam padi datang lagi, tanah yang adu menjadi lebih subur,” katanya lagi.

Kebutuhan pupuk bisa dikurangi. Tanah pun boleh jadi lebih subur, tapi basil akhir yang diincar tentu saja ting­kat produksi. Jika satu tanaman kede­lai biasa umumnya menghasilkan 50­60 polong (1 polong berisi 2-3 kacang kedelai), kedelai plus mampu mempro­duksi sampai 100 polong alias dua kali lipatnya. Jadi, jika produksi nasional rata-rata kedelai biasa adalah 1,2 ton per hektare, produksi kedelai plus bisa mencapai 2,4-4,5 ton per hektare.

Angka itu sudah dibuktikan Harmastini di lahan uji coba seluas 10 hektare di Kabupaten Musiwaras, Provinsi Sumatera Selatan, pada 2004. Empat tahun lalu, benih kedelai plus yang ditebar mampu menuai ha­sil panen sebanyak 362 ton. Padahal, sebagai catatan saja, sebagian lahan bergambut.

“Uji coba lain, baik dilakukan di tanah subur maupun kurang subur, di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti di Gunung Kidul, Bogor, Sukabumi, Subang. dan Serang, membuktikan hasil serupa, kali ini yang berbicara adalah Endang Sukara. Produksi te­tap jauh lebih tinggi daripada pro­duksi tanaman kedelai biasa.

Lewat kedelai plus, Endang Sukara dan kawan-kawan di LIPI sekaligus ingin mengangkat pamor kedelai di Indonesia. Menurut Endang, banyak ilmuwan, termasuk di Indonesia, yang sampai sekarang masih percaya bah­wa kedelai hanya cocok ditanam di daerah beriklim subtropis. Yang se­ring diperbandingkan adalah produk­tivitas kedelai nasional hanya 1,2 ton per hektare, sedangkan di Amerika Serikat mencapai 2,3 ton per hektare. Padahal, Endang melanjutkan, pro­duksi kedelai Amerika itu dikerek de­ngan modifikasi genetis. Kami mela­kukan modifikasi hayati, produktivi­tas kedelai lokal terbukti setara dan bahkan melebihi kedelai impor,” ka­tanya. Teknologi organic-bio-engineering yang dikembangkan LIPI, Endang me­nuturkan, bisa pula diterapkan pada seluruh varietas kedelai lokal, terma­suk keluaran Departemen Pertanian dan Badan Tenaga Nuklir Nasional. “Ongkosnya tidak mahal,” katanya sambil menambahkan, hitungan per hektare yang hanya dibutuhkan Rp 50 ribu untuk menambahkan bakteri. Endang sangat berharap pemerin­tah kali ini segera memanfaatkan ha­sil penelitian itu secara massal. Peme­rintahan sebelumnya sudah diperke­nalkan dengan kedelai plus, tapi tidak memanfaatkannya. “Penelitian ini memang tidak akan berguna apabila pemerintah tetap mempertahankan kebijakan tata niaga kedelai yang le­bih mengutamakan impor dalam ben­tuk jadi,” katanya menitip pesan.

Titip Bakteri Sejak Biji

K

edelai plus adalah buah terbaru dari 30 tahun lebih penelitian Lembaga II­mu Pengetahuan Indonesia tentang kedelai. Bakteri rhizobium adalah kunci utamanya. Karakter bakteri ini adalah ber­simbiosis dengan tanaman legum, seperti kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dan lain-lain. Bakteri ini akan menginfeksi akar tanaman, dan hidup dengan cara membentuk bintil-bintil di akar.

Beberapa jenis terpilih rhizobium jenis B64 biotechnology culture collection di­kembangkan dalam media fermentasi cair yeast ekstrak manitol. “Ini teknologi hayati double fermentation, yakni bakteri rhizobi­um bisa memperbanyak dirinya sendiri de­ngan media ubi kayu atau singkong yang difermentasi,” kata Harmastini.

Suspensi bakteri lalu disisipkan ke da­lam biji kedelai dengan mesin vakum pen­campur yang dikembangkan LIPI. Saat biji ditanam, bakteri akan mulai menginfeksi akar kedelai dan membentuk bintil akar yang menyerap nitrogen. Akibatnya, kan­dungan nitrogen dalam tanah bisa me­ningkat sampai 20 persen setelah pena­naman. Tanah menjadi lebih subur dan produktivitas tanaman meningkat.

Alat Baru untuk yang Takut Pingsan

Rumah Sakit St Mary di London, Inggris, menjadi rumah sakit pertama di dunia yang menanam alat pacu jan­tung baru, Biotronik Cylos 990, ke tubuh pasiennya. Biotronik Cylos 990 mampu mendeteksi perubahan halus atau sangat awal dalam irama detak jantung yang biasa mendahului kejadi­an pingsan.

Pingsan memang sering diakibatkan oleh penyakit jantung dan saraf. Gejala awalnya tidak terlihat, yakni detak jantung yang me­lemah atau menurun secara drastis. Nah, alat bantu pacu jan­tung konvensional bekerja dengan mendeteksi penurunan detak jantung ini lalu membantu jantung berdetak lebih cepat.

Masalahnya, satu dari setiap 20 orang penderita berusia di atas 40 tahun tidak mengalami pelemahan detak jantung sebe­lum pingsan. Pacemaker biasa tidak bisa membaniu mereka.

Biotronik Cylos 990 dibuat sebagai sebuah terobosan kare­na tidak lagi mendeteksi pelemahan detak jantung. Biotronik Cylos 990 memonitor satu kamar di jantung, yakni serambi ka­nan, tempat darah masuk kembali ke jantung seteiah beredar ke seluruh tubuh. Alat ini memonitor apakah serambi kanan mendadak menyempit.

Ketika terjadi penyempitan itu, Biotronik Cylos 990 akan me­nyampaikan isyarat darurat berupa sinyal ke dokter dan rumah sang pasien. Selain itu, secara otomatis pula ia akan mengirim surat elektronik dan pesan pendek ke orang-orang terdekat pa­sien lengkap dengan pemberitahuan lokasi pasien. Tidak lupa, alat itu merekam data kondisi jantung pasien hingga 24 jam terakhir untuk kebutuhan dokter.

Biotronik Cylos 990 sangat membantu terutama rnereka yang berulang kali jatuh pingsan. Helen Swain, 32 tahun, mi­salnya. Warga Braintree, Essex, Inggris, itu selama ini tidak pernah pergi jauh dari rumahnya.

Alasannya sederhana: ia takut pingsan di tengah jalan. Ba­nyak pemicu yang bisa membuatnya pingsan sejak kecil, di an­taranya kelelahan, stres, atau terkejut. Kalau sudah begitu, biasanya ia akan merasa tidak enak dan beberapa rnenit ke­mudian pingsan.

Semula dokter menyangka Swain alergi, dan epilepsi penye­babnya. Tapi diketahui jantung yang membuatnya s?ring pingsan. Profesor Richard Sutton, ahli jantung di Rumah Sakit St Ma­ry, menyatakan Biotronik Cylos 990 adalah terobosan baru ba­gi upaya menolong dan menyelamatkan nyawa pasien. “Ini sa­ngat membantu pasien untuk menjalani kehidupannya sehari­hari tanpa harus takut pingsan dan tidak mendapat pertolong­an,”katanya

Memanen Panas Bumi

Panas yang dihasilkan oleh cadangan panas bumi dari da­lam perut bumi dapat dimanfaat­kan untuk menciptakan uap dan akhirnya membangkitkan listrik. Departemen Energi clan Sumber Daya Mineral RI pernah menghi­tung bahwa potensi energi pa­nas bumi Indonesia bisa meng­hasilkan 27.199 megawatt (MW), setara dengan 11 miliar barel minyak bumi. Sayangnya, sampai saat ini penggunaan sumber energi ini baru 3 persen (852 MW).

Bagaimana cara kerjanya

1. Sumur produksi digali untuk meneapai cadangan uap pa­nas bumi di dalam tanah.

2. Uap yang dimampatkan dile­paskan clan disalurkan lewat pi­pa ke pusat pembangkit listrik. Tenaga yang dihasilkan uap di­gunakan untuk memutar turbin.

3. Turbin menyuplai tenaga pada generator yang mengubah ener­gi putaran itu menjadi listrik.

4. Air yang dihasilkan dalam pro­ses ini disuntikkan kembali clan pembangkit listrik ke ca­lam reservoir untuk memeliha­ra sumber daya alam itu.


Energi Geothermal

Tiga tipe energi panas bumi yang dapat dimanfaatkan untuk membuat listrik:

Geopressurized: Menggunakan air panas, sekitar 177 derajat Celsius, dan turbin hidrolik.

Petrothermal: Menggunakan batuan pahas ke­ring yang memerlukan injeksi air untuk menghasilkan uap. Hydrothermal: Proses ini yang paling banyak di­gunakan. Proses hydrothermal ini memanfaatkan uap clan air panas. Begini cara kerjanya:

– Uap dipompakan dari sumur langsung dari reservoir ke se­buah turbin raksasa.

– Turbin memutar sebuah magnet yang membangkitkan listrik.

Bahan Bakar dari Batu Bara

Bahan dari Batu Bara Untuk Pesawat Tempur

Angkatan Udara Amerika Serikat segera meninggal­kan bahan bakar minyak.

Pesawat penge­bom siluman berbahan-bakar batu bara? Jangan bayangkan seorang co-pilot mengeruk batu bara de­ngan sekop ke mesin tungku seper­ti kereta api zaman koboi. Ini sung­guhan. Pekan lalu, Angkatan Uda­ra Amerika Serikat (USAF) merilis rencana ambisius untuk menying­kirkan minyak bumi, yang selama ini menjadi sumber bahan bakar mesin-mesin perang mereka, dan menggantinya dengan batu bara.

Sebagai rencana awal, USAF akan membangun fasilitas domes­tik konversi batu bara menjadi ba­han ‘)akar sintetis di Pangkalan Udara Malmstrom, Montana. Fasi­litas itu diharapkan menjadi pusat konversi batu bara terbesar di ne­gara tersebut.

Tujuan kebijakan ini adalah mengamankan kepentingan nasio­nal f1i:ierika, dengan mengurangi ketergantungan pada irnpor mi­nyak dari negara lain. Pada 2006, USAF menghabiskan 3,2 miliar ga­lon atau 12 miliar liter bahan bakar minyak. Jumlah itu mencapai 79 persen dari seluruh kebutuhan ba­

han bakar minyak militer Amerika Serikat. Hanya, untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar Angkatan Udara, pemerintah harus merogoh kocek sekitar US$ 7,8 miliar.

Jumlah tersebut terus membeng­kak seiring dengan tren naiknya harga minyak dunia. Repotnya, produksi minyak Amerika Serikat hanya sanggup memenuhi 35 per­sen kebutuhan dalam negerinya. Sisanya,sebanyak 65 persen diimpor dari negara lain, dan 20 persen di antaranya beli dari Arab Saudi.

Ini sangat kontras apabila mengingat kenyataan bahwa Amerika kava akan batu ba­ra. Negeri Abang Sam berada di urutan pertama negara de­ngan cadangan batu bara ter­besar di dunia, sekitar 246 miliar ton. Sebagai perbandingan, Indo­nesia-yang merupakan eksportir batu bara terbesar di dunia-di­perkirakan hanya memiliki sekitar 5 miliar ton cadangan batu bara. “Kita masih akan membakar ba­han bakar fosil untuk jangka wak­tu yang lama dan kenyataannya, tanah kita memiliki lebih banyak batu bara dibanding minyak bu­mi,” kata Deputi Menteri Muda Angkatan Udara William Ander­son. “Tidak sulit dinalarkan, bu­kan? Wajar kalau kita seharusnya memilih batu bara.”

Anderson menyatakan Angkatan Udara tidak akan membiayai, membangun, atau mengoperasikan sendiri fasilitas konversi energi itu. Mereka justru berharap ada inves­tor dalam negeri yang mau berin­vestasi membangun fasilitas terse­but. “Angkatan Udara hanya akan menyediakan lahan seluas 700 hek­tare di wilayah pangkalan untuk membangun fasilitas tersebut,” katanya.

Hal lain yang disediakan Angkatan Udara adalah ri­buan jet tempur dan peralat­an perang lainnya. “Yang ti­dak kalah penting, kami akan menyediakan diri seba­gai konsumen,” ujarnya. “Ingat, kami adalah Angkatan Udara Amerika Serikat. Kami akan menjadi konsumen produk bahan bakar terbesar”

Lelang proyek akan dilakukan pada Mei mendatang, dan konstruk­sinya diharapkan selesai empat ta­hun setelah Departemen Pertahanan memutuskan pemenang proyek. Angkatan Udara berharap separuh armada perangnya sudah menggu­nakan bahan bakar sintetis berbasis batu bara pada 2016. “Pada saat itu, kami akan membutuhkan 400 juta

bahan bakar,” kata Anderson. Dengan kebutuhan sebesar ini, Anderson yakin permintaan dari sektor swasta, seperti maskapai pe­nerbangan komersial atau perusa­haan jasa transportasi laut dan da­rat, juga ikut meningkat. “Karena kami memiliki ribuan pesawat yang haus bahan bakar, kami akan mampu menciptakan pasar dan permintaan yang besar serta akan mendorong permintaan serupa dari sektor swasta,” katanya.

Yang sudah pasti girang atas ren­cana itu adalah produsen bahan bakar batu bara. Selama ini, mere­ka kesulitan mengembangkan pa­sar bagi produk bahan bakar cair berbasis batu bara karena kekha­watiran parlemen akan dampak lingkungannya. Tekanan dampak perubahan iklim sempat membuat rencana membangun beberapa pembangkit listrik tenaga batu ba­ra di Amerika Serikat kandas.

Rencana USAF ini akan membu­at batu bara beroleh kekuatan poli­tik dan ekonomi yang baru. “Inilah konsumen yang sudah lama kami tunggu,” kata John Baardson, pe­milik Baard Energy, perusahaan batu bara yang berbasis di Vancou­ver. “Angkatan Udara Amerika Se­rikat akan menjadi agen perubah­an bagi seluruh industri batu bara di Amerika Serikat dan dunia Menurut Baardson, kebutuhan Ang­katan Udara begitu besar, sehingga ti­dak akan cukup hanya disuplai oleh satu fasilitas. Untuk memenuhi kebu­tuhan itu, dibutuhkan beberapa pabrik yang menyuplai bahan bakar cair batu bara. “Untuk sekadar memenuhi kebu­tuhan mereka, industri batu bara Ame­rika Serikat harus bersatu,” katanya.

Pabrik produsen bahan bakar batu bara cair di Pangkalan Udara Malmstrom direncanakan akan mem­produksi 25 ribu barel bahan bakar ba­tu bara sintetis. Tapi hanya 15 persen yang direncanakan digunakan untuk bahan bakar pesawat. Sisanya dipakai sebagai bahan bakar kapal, truk, kere­ta, dan nafta, material yang banyak di­gunakan oleh industri kimia. “Artinya, dibutuhkan minimal tujuh pabrik yang memproduksi bahan bakar batu bara sintetis untuk memenuhi kebutuhan mereka pada 2016,” ujar Baardson.

Di Wall Street, para analis masih skeptis terhadap rencana tersebut, mes­kipun mengakui rencana itu sangat la­yak dari sisi bisnis. Biaya produksi ba­han bakar batu bara cair adalah sekitar US$ 35 per barel. Bahkan, bila produsen mengambil keuntungan dua kali Ii­pat dengan menjualnya seharga US$ 70, harganya masih di bawah harga mi­nyak dunia yang saat ini mencapai US$ 110. “Apa ini teknologi yang layak? Se­benarnya iya,” kata analis energi, Gor­don Howald. “Tapi orang ingin melihat dulu proyek ini berjalan.”

Maklum saja, Amerika belum memi­liki pabrik yang memproduksi bahan bakar batu bara cair. Di seluruh dunia, hanya ada dua pabrik yang semuanya berada di Afrika Selatan. Tahun ini, Cina akan mendirikan satu pabrik lagi. “Kalau pabriknya sudah berjalan dan tidak ada keberatan dari parlemen, ba­ru investor akan masuk,” kata Howald.

Keberatan dari Capitol Hill memang tampaknya akan jadi batu sandungan, yang mengkhawatirkan dampak ling­kungan karena kemungkinan besar ba­han bakar berbasis batu bara menim­bulkan lebih banyak emisi daripada ba­han bakar minyak. “Kami tidak meng­inginkan energi jenis baru yang justru membuat masalah efek gas rumah kaca semakin parah,” kata Ketua Komisi Pe­nilai Kongres Henry Waxman.

Waxman sudah mengirimkan surat keberata kepada Menteri Pertahanan Robert Gates, yang menyatakan emisi gas rumah kaca dari bahan bakar batu bara cair harus diperhatikan. Kongres Amerika Serikat kemungkinan besar akan mengeluarkan aturan bahwa penggunaan bahan bakar sintetis ber­basis batu bara untuk militer baru akan diizinkan bila ada bukti bahan ua.k.ar tersebut mengeluarkan emisi yang setara atau lebih rendah daripada bahan bakar minyak. “Angkatan Uda­ra mengeluarkan rencana ini dengan alasan keamanan nasional,” kata Wax­man. “Padahal perubahan iklim juga masalah keamanan nasional.”

Meski demikian, Anderson tetap op­timistis. Dia menyatakan Angkatan Udara akan menjamin bahan bakar ini mendukung program Green Fuel yang dicanangkan Pemerintah Amerika Se­rikat. “Untuk mengurangi emisi, ting­gal dilakukan penambahan bahan campuran sintetis tertentu dan mengu­rangi takaran batu bara yang diguna­kan,” katanya. “Tenang saja.”

‘Hijau’ Produknya, ‘Hitam’ Prosesnya

Batu bara sesungguhnya dapat dikon­versi menjadi bahan bakar cair seperti bensin atau solar. Prosesnya disebut likuifaksi. Salah satu caranya, yang paling sederhana dan terkenal, disebut proses Fischer-Tropsch (FT) yang sudah digunakan sejak perang dunia ke-II oleh Nazi, Jerman. FT adalah proses sintesis tidak langsung yang melibatkan batu bara menjadi hidrokar­bon cair. Pertama, batu bara melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan gas sintesis (syngas)–campuran seimbang antara hidro­gen dan karbon monoksida. Syngas lalu di­kondensasikan menggunakan katalis FT un­tuk menghasilkan hidrokarbon ringan yang selanjutnya diproses menjadi bensin dan so­lar. Syngasjuga dapat dikonversi menjadi metanol, yang dapat juga digunakan sebagai zat tambahan bahan bakar.

Ada beberapa cara memproses batu bara menjadi bahan bakar. Salah satunya adalah proses Bergius yang merupakan proses sinte­sis langsung likuifaksi menggunakan hidroge­nasi lewat pemakaian temperatur tinggi dan gas sintesis bertekanan tinggi yang diproduksi dalam gasifikasi. Pabrik bahan bakar di Afrika Selatan menggunakan proses ini.

Cara hidrogenasi lainnya adalah proses Schroeder, mengambil nama penemunya, Wilburn C. Schroeder. Proses ini mengguna­kan batu bara yang sudah menjadi bubuk clan dikeringkan lalu dicampur dengan katalis molibdenum dan mengalami proses hidroge­nasi. Proses ini menghasilkan produk minyak mentah sintetis yang disebut nafta, yang menjadi bahan pembuatan bensin clan solar.

Cairan hidrokarbon dari batu bara juga bi­sa diproduksi lewat karbonisasi temperatur rendah atau low temperature carbonization (LTC) yang kadang disebut juga proses Kar­rick. Batu bara dimasak dengan temperatur 450-700 derajat Celsius menjadi campuran metalurgi, bukan 800-1.000 derajat Celsius seperti proses sebelumnya. Temperatur ren­dah ini memaksimalkan produksi tar batu

bara lebih banyak hidrokarbon ringannya di­banding tar normal batu bara. Tar batu bara itu lantas diolah menjadi bahan bakar.

Semua metode produksi ini melepas kar­bon dioksida atau C02 dalam proses kon­versinya, lebih hebat ketimbang ekstraksi dan proses pengilangan minyak mentah menjadi bahan bakar. Artinya, walaupun pro­duk bahan bakar yang dihasilkan lebih “hi­jau” dan ramah lingkungan-sesuai dengan standar emisi bahan bakar Euro 3 justru prosesnya lebih “hitam” dan melepas lebih banyak karbon dioksida ke atmosfer. Bebe­rapa pihak mencoba memasukkan proses sequestration dalam metode ini, yaitu sebe­lum dibuang, C02 didilusikan dengan nitrogen dan gas lain. Tapi proses ini menambah biaya produksi.

Indonesia sendiri sudah lama mengenal teknologi memproses bahan bakar cair dari batu bara. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sejak 1994 sudah bekerja sama dengan New Energy and Industrial Technolo­gy Development Organization untuk melaku­kan penelitian dasar dan penelitian terapan mengenai teknologi tersebut. Keduanya telah menyiapkan rencana untuk membangun pro­yek percontohan instalasi komersial pencair­an batu bara di Berau, Kalimantan Timur.

Pemerintah, dalam strategi pengelolaan energi nasional 2005-2025, juga mentarget­kan pembangunan tiga pabrik pencairan batu bara berkapasitas produksi 6.000 ton per ha­ri untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan BBM. Ketiga pabrik tersebut diharapkan akan dapat mengurangi 10 persen kebutuhan BBM untuk transportasi.

Sumber: Tempo

Katalog DNA Untuk Seribu Orang

Para peneliti di tiga benua akan bekerja sama untuk membuat katalog genom dari 1.000 orang dalam sebuah proyek ambisius. Mereka berharap katalog DNA ini bisa mem­bantu menentukan faktor dan akar genetik penyakit manusia.

Wellcome Trust Sanger Institute dari Inggris, National Human Genome Research Institute (NHGRI) dari Amerika, dan Beijing Genomics Institute-Shenzhen, Cina, terlibat dalam Proyek 1.000 Genom tersebut. Mereka akan membuat sehuah peta genom manusia terbaru, dengan data variasi DNA biomedis paling leng­kap. “1.000 Genomes Project ini akan memeriksa genom ma­nusia pada tingkat detail yang tak pernah dilakukan sebelum­nya,” kata Richard Durbin dari Sanger Institute, Selasa lalu.

Dalam pernyataannya, institut itu mengatakan bahwa proyek tersebut hanya mungkin dilakukan dalam dua tahun terakhir ini karena teknologi se­quencing genetika, bioinformatika, dan teknik riset lain ma­kin maju. “Kami me­langkah ke depan untuk membuat per­kakas yang akan ber­kembang dan mem­percepat upaya un­tuk menemukan le­bih banyak faktor genetika yang terlibat dalam penyakit dan ke­sehatan manusia,” begitu pernyataan univesitas yang menjadi ketua konsorsium itu.

Riset tersebut bertujuan menyediakan data lebih detail ten­tang satu persen DNA yang bervariasi antar individu dan sering kali bertanggungjawab atas perbedaan dalam kerentanan ter­hadap penyakit dan reaksi pengobatan. Para ilmuwan telah mendaftar puluhan wilayah variasi genom manusia yang spesifik (haplotype) dan mengasosiasikannya dengan penyakit umum, seperti penyakit jantung koroner, kanker payudara, arthritics, dan penyakit akibat penuaan.

Peta DNA yang ada saat ini tidak terlalu detail sehingga para ilmuwan menginginkan gambaran genom yang lebih jelas agar bisa menemukan faktor genetika suatu penyakit. “Database yang telah berhasil kami katalogkan dari variasi yang ditemukan dalam sedikitnya 10 persen populasi,” kata Francis Collins, wa­kil NHGRI. “Dengan memanfaatkan teknologi sequencing dan metode komputasional terbaru, kami harap bisa memberikan peta genom lengkap bagi ilmuwan biomedis, yang memaparkan segala bentuk variasi sampai tingkat satu persen. Ini akan mengubah cara kami mempelajari penyakit genetis”

Proyek ini akan memetakan DNA dari beragam kelompok et­nis yang spesifik, termasuk Yoruba di Ibadan, Nigeria; Chinese di Denver, Colorado; Chinese di Beijing; Toscan di Italia, India Gujarati di Houston, Texas; orang Meksiko di Los Angeles; serta warga keturunan Afrika di barat daya Amerika Serikat.

Semua DNA dikumpulkan serta seluruh identifikasi informasi pribadi dan medis dihapus dari sampel untuk melindungi anoni­mitas mereka. Data yang terkumpul akan diterbitkan dalam sebuah database yang bebas diakses oleh ilmuwan di dunia yang memerlukannya.

AFP